Keputusan Sa’d Sejalan Dengan Bible

note: tulisan ini merupakan kelanjutan dari posting sebelumnya.

Sambil menoleh kepada Banu Quraiza ia mengajukan pertanyaan yang sama, dan mereka pun setuju. Maka dengan rasa malu ia menunjuk ke tempat Rasulullah s.a.w. duduk dan bertanya kalau orang-orang di sebelah situ pun bersedia tunduk kepada keputusannya.
Mendengar pertanyaan itu Rasulullah s.a.w. menjawab, “Setuju” (Tabari dan Hisyam).

Kemudian Sa’d menjatuhkan keputusannya sesuai dengan perintah Bible sebagai berikut:
Apabila engkau mendekati suatu kota untuk berperang melawannya, maka haruslah engkau menawarkan perdamaian kepadanya. Apabila kota menerima tawaran perdamaian itu dan dibukanya pintu gerbang bagimu, maka haruslah semua orang yang terdapat di situ melakukan pekerjaan rodi bagimu dan menjadi hamba kepadamu. Tetapi apabila kota itu tidak mau berdamai dengan engkau, melainkan mengadakan pertempuran melawan engkau, maka haruslah engkau mengepungnya; dan setelah Tuhan, Allahmu, menyerahkannya ke dalam tanganmu, maka haruslah engkau membunuh seluruh penduduknya yang laki-laki dengan matapedang. Hanya perempuan, anak-anak, hewan dan segala yang ada di kota itu, yakni seluruh jarahan itu, boleh kau rampas bagi dirimu sendiri dan jarahan dari musuhmu ini, yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu, boleh kaupergunakan. Demikianlah harus kau lakukan terhadap segala kota yang sangat jauh letaknya dari tempatmu, yang tidak termasuk kota-kota bangsa-bangsa di sini. Tetapi dari kota-kota bangsabangsa itu, yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, janganlah kau biarkan hidup apapun yang bernafas, melainkan kau tumpas sama sekali, yakni orang Het, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu, supaya mereka jangan mengajar kamu berbuat sesuai dengan segala kekejian, yang dilakukan mereka bagi allah mereka, sehingga kamu berbuat dosa kepada Tuhan, Allahmu. (Ulangan 20:10-18).
Menurut ajaran Bible, jika kaum Yahudi menang dan Rasulullah s.a.w. kalah, maka semua orang Muslim – Iaki-laki, perempuan dan anakanak – akan dihukum mati. Kami mengetahui dari sejarah bahwa memang itulah kemauan kaum Yahudi. Sekurang-kurangnya kaum Yahudi akan membunuh semua pria, menjadikan wanita dan anak-anak sebagai budak dan merampas segala milik kaum Muslimin, semua perlakuan itu ditetapkan dalam Ulangan terhadap tiap-tiap bangsa musuh yang hidup di bagian dunia yang jauh. Sa’d bersahabat dengan Banu Quraiza. Sukunya bersekutu dengan suku mereka. Ketika diketahuinya bahwa kaum Yahudi menolak keputusan Rasulullah s.a.w. dan karenanya menolak hukuman lebih ringan yang telah ditetapkan terhadap pelanggaran serupa itu dalam agama Islam, ia mengambil keputusan menjatuhkan hukuman kepada kaum Yahudi yang telah ditetapkan oleh Nabi Musa a.s. Tanggung jawab terhadap keputusan itu tidak terletak di bahu Rasulullah s.a.w. atau kaum Muslimin, melainkan pada Nabi Musa a.s. dengan ajarannya dan pada kaum Yahudi sendiri yang telah memperlakukan kaum Muslimin begitu kejam. Kepada mereka ditawarkan keputusan yang mengandung unsur kasih. Tetapi daripada mau menerimanya, mereka bersikeras meminta keputusan Sa’d. Sa’d menetapkan menghukum kaum Yahudi sesuai dengan hukum syariat Nabi Musa a.s.. Namun demikian, kaum Kristen sampai hari ini terus mencela Rasulullah s.a.w. dan mengatakan bahwa beliau sangat kejam terhadap kaum Yahudi tersebut. Andai kata benar beliau kejam terhadap kaum Yahudi itu, mengapa beliau tidak berlaku kejam terhadap kaumkaum lain atau pada peristiwa-peristiwa lainnya? Banyak sekali kejadian-kejadian, saat musuh Rasulullah s.a.w. menyerahkan nasibnya kepada kemurahan hati beliau, dan tak pernah permohonan pengampunan mereka meleset. Pada peristiwa ini musuh bersikeras supaya orang lain selain Rasulullah s.a.w. menjatuhkan keputusannya. Orang pilihan mereka sendiri yang bertindak sebagai wasit antara mereka dan kaum Muslimin, bertanya kepada Rasulullah s.a.w. dan kaum Yahudi di muka umum, apakah mereka semua mau menerima keputusannya. Baru sesudah semua pihak menyetujuinya, ia mulai mengumumkan keputusannya. Dan apakah keputusannya? Tak lain dan tak bukan kecuali mengikuti hukum syariat Nabi Musa a.s. terhadap pelanggaran kaum Yahudi. Mengapa mereka pada waktu itu tidak menerimanya? Bukankah mereka menyebut diri mereka termasuk di antara para pengikut Nabi Musa a.s.? Jika ada sesuatu kekejaman dilakukan, maka hal itu dilakukan oleh orang-orang Yahudi terhadap orang-orang Yahudi sendiri. Kaum Yahudi menolak menerima keputusan Rasulullah s.a.w., dan alih-alihnya, telah mendatangkan tuntutan hukum agama mereka sendiri terhadap pelanggaran mereka.
Jika suatu kekejaman telah dijalankan, maka kekejaman itu telah dilakukan oleh Nabi Musa a.s. yang telah menetapkan hukuman itu terhadap musuh yang ditundukkan dan mencantumkan hukuman itu dalam kitabnya atas Perintah Tuhan. Penulis-penulis Kristen selayaknya tidak menghamburkan kemarahan kepada Rasulullah s.a.w.. Mereka harus mengutuk Nabi Musa a.s. yang telah menetapkan hukuman kejam itu atau mengutuk Tuhan Nabi Musa a.s. yang memerintahkan beliau berbuat demikian.
Perang Parit telah usai. Rasulullah s.a.w. menyatakan bahwa sejak hari itu ke depan, kaum Musyrikin tidak akan menyerang lagi kaum Muslimin; malahan sebaliknya, kaum Muslimin mulai hari itu akan menyerang kaum Musyrikin. Kartu telah terbalik. Kaum Muslimin mulai menjadi penyerang terhadap suku-suku dan golongan-golongan yang sebegitu jauh dengan tak beralasan menyerang dan mengganggu mereka.
Apa yang dikatakan Rasulullah s.a.w. itu bukan gertak sambal. Dalam Perang Khandak, persekutuan Arab sedikit pun tidak menderita kerugian besar. Mereka hanya kehilangan beberapa orang. Dalam masa kurang dari satu tahun mereka dapat datang kembali dan menyerang Medinah dengan persiapan yang lebih baik lagi. Alih-alih suatu pasukan yang terdiri atas dua puluh ribu prajurit, mereka dapat menyusun serangan baru dengan pasukan yang terdiri atas empat puluh, atau bahkan lima puluh ribu prajurit. Suatu angkatan perang sebesar seratus atau seratus lima puluh prajurit bukan di luar jangkauan kemampuan mereka. Tetapi, sekarang dalam masa dua puluh satu tahun, musuh Islam telah bantingtulang berusaha melenyapkan Islam dan kaum Muslimin. Kegagalan rencana-rencana mereka secara terus-menerus telah menggoyahkan kepercayaan kepada diri mereka sendiri. Mereka mulai khawatir dan was-was, kalau-kalau apa yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w. itu benar, dan bahwa berhala-berhala dan dewa-dewa mereka itu palsu, dan bahwa Sang Maha Pencipta adalah Tuhan Yang Maha Ghaib, yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w. itu. Kekhawatiran bahwa Rasulullah s.a.w. itu benar dan mereka salah mulai merasuk dan meresap ke dalam diri mereka. Kendati demikian, tanda-tanda kekhawatiran itu tak Nampak dari luar. Pada lahirnya, kaum Musyrikin nampaknya tetap seperti biasa.
Mereka pergi kepada berhala-berhala mereka dan mendoa kepada berhala-berhala seperti sediakala. Tetapi, semangatnya telah remuk redam. Pada lahirnya mereka menjalani kehidupan musyrik dan kafir; di dalam batin mereka tampak menggemakan semboyan Islam – Laailaha illallah, tidak ada Tuhan kecuali Allah.
Seusai Perang Khandak Rasulullah s.a.w., seperti telah kami katakan, mengumumkan bahwa dari saat itu ke depan orang-orang kafir tidak akan menyerang kaum Muslimin lagi; tetapi sebaliknya, kaum Muslimin akan menyerang kaum kufar. Kesabaran kaum Muslimin telah sampai pada batasnya. Muslim telah berubah (Bukhari, Kitab al- Maghazi).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 241,055 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: