Rasulullah Berangkat Ke Mekkah Dengan Seribu Lima Ratus Sahabat

note: tulisan ini merupakan kelanjutan dari postingan sebelumnya.

Di dalam masa itu Rasulullah s.a.w. melihat sebuah kasyaf yang dalam Al-Qur’an disinggung demikian:

“Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan kepada Rasul-Nya rukya dengan benar, kamu pasti akan masuk Masjidil Haram jika Allah menghendaki dengan aman, dengan mencukur habis rambut kepalamu atau memotong pendek tanpa merasa takut. Tetapi Dia mengetahui apa yang kamu tidak ketahui, Dia sebenarnya telah menetapkan bagimu selain itu satu kemenangan yang dekat” (48:28).

Berarti bahwa Tuhan telah menetapkan untuk mengizinkan kaum Muslimin memasuki daerah sekitar Ka’bah dengan aman, dengan kepala dicukur dan rambut dipangkas serta tanpa rasa takut. Tetapi kaum Muslimin tidak tahu pasti, bagaimana Tuhan akan memungkinkan hal itu terjadi. Lagi pula, sebelum kaum Muslimin menjalankan ibadah Haji dengan aman, mereka meraih kemenangan lain, suatu pendahuluan bagi kemenangan yang dijanjikan dalam kasyaf.

Dalam kasyaf tersebut Tuhan memberikan kabar ghaib mengenai kemenangan kaum Muslimin, pada akhirnya gerakan masuk ke Mekkah dengan aman dan damai, dan perebutan Mekkah tanpa penggunaan senjata. Tetapi Rasulullah s.a.w. memahami bahwa kaum Muslimin telah diperintahkan oleh Tuhan untuk segera mencoba menjalankan thawaf di Ka’bah. Kekeliruan Rasulullah s.a.w. dalam menafsirkan kasyaf akan menjadi peristiwa kemenangan “yang dekat” seperti dijanjikan dalam kasyaf itu. Maka dalam kekeliruan, Rasulullah s.a.w. merencanakan perjalanan ke Ka’bah. Beliau mengumumkan kasyaf tersebut, dengan penafsirannya, kepada kaum Muslimin lalu meminta supaya mereka mengadakan persiapan.

“Kamu akan berangkat,” sabda beliau, “hanya untuk menjalankan thawaf di Ka’bah. Oleh karena itu tidak boleh melakukan unjuk rasa terhadap musuh.”

Akhir Februari 628, seribu lima ratus orang (Dalam ziarah yang direncanakan setahun sesudah Perang Khandak ini hanya seribu lima ratus orang menyertai Rasulullah s.a.w.. Jumlah prajurit-prajurit Muslim dalam Perang Khandak mungkin kurang, tetapi tentu tak lebih dari jumlah itu. Maka para ahli sejarah yang menetapkan jumlah prajurit-prajurit Muslim dalam Perang Khandak ada tiga ribu itu salah. Jumlah itu layaknya ditetapkan seribu dua ratus orang.) peziarah dipimpin oleh Rasulullah s.a.w., berangkat ke Mekkah; suatu pengawal berkuda seribu lima ratus orang menyertai Rasulullah s.a.w.. Jumlah prajurit-prajurit terdiri atas dua puluh orang berjalan di muka, dengan jarak agak jauh, untuk memberi kabar kepada kaum Muslimin jika musuh memperliatkan tanda-tanda akan menyerang.

Kaum Mekkah segera menerima laporan mengenai kafilah itu. Tradisi telah menetapkan bahwa thawaf di Ka’bah sebagai hak universal. Tradisi itu tidak dapat mengucilkan kaum Muslimin. Mereka telah mengumumkan dengan kata-kata yang tegas bahwa tujuan perjalanan mereka hanya untuk thawaf di Ka’bah, bukan untuk tujuan lain.
Rasulullah s.a.w. telah melarang segala macam unjuk rasa. Tidak boleh ada perbantahan-perbantahan, mengadakan tuntutan- tuntutan, dan pernyataan-pernyataan. Walaupun demikian, kaum Mekkah mulai mengadakan persiapan-persiapan seperti akan ada bentrokan senjata. Mereka mengadakan pertahanan di semua jurusan, menyerukan permintaan bantuan kepada suku-suku di sekitar dan agaknya bertekad untuk bertempur. Ketika Rasulullah s.a.w. sampai ke dekat Mekkah, beliau mendapat laporan bahwa kaum Quraisy siap untuk berkelahi. Mereka mengenakan baju kulit harimau, membawa istri dan anak-anak mereka, dan telah bersumpah dengan khidmat. Tak lama kemudian, sepasukan orang-orang Mekkah berderap di muka angkatan perang menghadapi kaum Muslimin. Kaum Muslimin sekarang tak dapat bergerak maju kecuali dengan pedang terhunus. Tetapi, Rasulullah s.a.w. telah betekad untuk tidak berbuat semacam itu. Beliau memakai seorang penunjuk jalan untuk membawa kafilah-kafilah Muslim itu ke jalan lain melalui padang pasir. Di bawah pimpinan penunjuk jalan itu Rasulullah s.a.w. dan para Sahabat tiba di Hudaibiya, suatu tempat yang sangat dekat Mekkah. Unta Rasulullah s.a.w. berhenti dan mogok, tidak mau maju lagi.

“Binatang ini agaknya lelah, ya Rasulullah. Lebih baik anda menaiki tunggangan lain,” kata seorang Sahabat.

“Tidak, tidak,” sabda Rasulullah s.a.w. “binatang ini tidak lelah.
Agaknya malah Tuhan menghendaki supaya kita berhenti di sini dan tidak meneruskan perjalanan. Maka aku usulkan untuk berkemah di sini dan menanyakan kepada kaum Mekkah, apakah mereka mau mengizinkan kita menunaikan ibadah Haji. Aku bersedia menerima tiap syarat yang ingin mereka tetapkan” (Halbiyya, Jilid 2, hlm. 13).

Balatentara Mekkah pada saat itu tidak ada di Mekkah, karena telah berangkat keluar agak jauh untuk menghadapi kaum Muslim di jalan utama ke Medinah. Jika Rasulullah s.a.w menghendaki, beliau dapat membawa pasukan beliau sejumlah seribu lima ratus prajurit itu ke Mekkah dan menduduki kota itu tanpa perlawanan. Tetapi, beliau berniat untuk berusaha hanya melakukan thawaf di Ka’bah dan itu pun jika kaum Mekkah mengizinkannya. Beliau hanya akan melawan dan bertempur dengan kaum Mekkah jika kaum Mekkah memutuskan untuk menyerang lebih dahulu. Itulah sebabnya mengapa beliau meninggalkan jalan utama dan berkemah di Hudaibiya. Segera kabar itu sampai kepada panglima Mekkah yang memerintahkan kepada anak buahnya untuk mengundurkan diri dan mengambil kedudukan dekat Mekkah. Kemudian kaum Mekkah mengutus seorang pemimpin, Budail namanya, untuk berunding dengan Rasulullah s.a.w.. Rasulullah s.a.w. menerangkan kepada Budail bahwa beliau dan kaum Muslimin hanya ingin melakukan thawaf di Ka’bah; tetapi, jika kaum Mekkah menghendaki perang kaum Muslimin pun sudah siap. Maka Urwa, menantu Abu Sufyan, pemimpin Mekkah, menjumpai Rasulullah s.a w.. Ia bersikap sangat kurang ajar. Ia menyebut kaum Muslimin gelandangan-gelandangan dan sampahsampah masyarakat, dan mengatakan bahwa kaum Mekkah tidak akan mengizinkan kaum Muslimin memasuki Mekkah. Makin banyak kaum Mekkah datang untuk mengadakan pembicaraan dan kata terakhir mereka ialah bahwa sedikitnya pada tahun itu mereka tidak akan mengizinkan kaum Muslimin melakukan thawaf sekalipun. Kaum Mekkah akan terhina jika mereka mengizinkan thawaf pada tahun itu. Tahun berikutnya boleh mereka melaksanakannya.

Beberapa suku yang bersekutu dengan kaum Mekkah menganjurkan dengan sangat kepada para pemimpin Mekkah supaya mengizinkan kaum Muslimin berthawaf. Pada pokoknya, yang mereka hendaki hanya hak berthawaf. Mengapa hal ini pun akan mereka rintangi? Tetapi, kaum Mekkah tetap bersikepala batu. Karena itu para pemimpin suku itu berkata bahwa kaum Mekkah tidak menghendaki perdamaian dan mengancam akan memisahkan diri dari mereka. Karena takutnya, kaum Mekkah dibujuk mengadakan persetujuan dengan kaum Muslimin. Segera setelah Rasulullah s.a.w. mendapat kabar mengenai hal itu, beliau mengutus Utsman (yang kemudian menjadi Khalifah ketiga) kepada kaum Mekkah. Utsman mempunyai banyak sanak-saudara di Mekkah. Mereka datang dan mengerumuninya serta menawarkan kepadanya untuk berthawaf. Rasulullah s.a.w. melakukannya sampai tahun berikutnya.

“Tetapi,” kata Utsman, “aku tidak mau berthawaf kecuali beserta majikanku.” Pembicaraan Utsman dengan para pemimpin Mekkah jadi berlarut-larut. Desas-desus disebarkan bahwa Utsman telah mati terbunuh. Berita itu sampai kepada Rasulullah s.a.w.. Karena itu Rasulullah s.a.w. mengumpulkan para Sahabat dan bersabda, “Jiwa seorang utusan dipandang suci oleh segala bangsa. Aku telah mendengar bahwa kaum Mekkah telah membunuh Utsman. Jika hal itu benar, kita harus masuk ke Mekkah, apa pun akibatnya.”

Niat Rasulullah s.a.w. yang sedianya masuk ke Mekkah dengan damai harus diubah karena keadaan berubah. Rasulullah s.a.w. meneruskan, “Mereka yang berjanji dengan khidmat bahwa jika harus terus maju, mereka tidak akan kembali kecuali sebagai pemenang; baiklah tampil ke muka dan bersumpah di tanganku.” Sesaat ketika Rasulullah selesai bersabda, para Sahabat yang seribu lima ratus itu bangkit semua dan lompat-melompati kawan, berebut menyambut tangan Rasulullah s.a.w. dan mengangkat sumpah. Sumpah itu mempunyai kepentingan istimewa dalam sejarah Islam di zaman awal.

Sumpah itu disebut “Sumpah Pohon”. Ketika sumpah diambil, Rasulullah s.a.w. sedang duduk di bawah sebuah pohon. Tiap-tiap orang yang mengangkat sumpah pada waktu itu tetap merasa bangga sampai akhir hidupnya. Dari jumlah seribu lima ratus yang hadir pada peristiwa itu, tak seorang pun yang tertinggal. Mereka semua berjanji bahwa jika utusan Muslimin itu dibunuh, mereka tidak akan pulang. Baik mereka akan menduduki Mekkah sebelum senja, atau semuanya akan mati dalam pertempuran. Angkat sumpah belum lagi selesai, maka Utsman kembali. Ia melaporkan bahwa kaum Mekkah tidak mengizinkan kaum Muslimin berthawaf sampai tahun berikutnya. Mereka telah menunjuk perutusan mereka untuk menandatangani suatu persetujuan dengan kaum Muslimin. Tak lama kemudian Suhail, seorang pemimpin Mekkah, menjumpai Rasulullah s.a.w.. Suatu persetujuan pun tercapai dan dituangkan dalam bentuk tulisan.

1 Response to “Rasulullah Berangkat Ke Mekkah Dengan Seribu Lima Ratus Sahabat”



  1. 1 Perjanjian Hudaibiya | Which, then, of the favours of your Lord will ye twain, deny? Trackback on December 2, 2014 at 1:16 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 216,092 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: