Pertempuran Mu’ta

Sekembali dari Ka’bah, Rasulullah s.a.w. mulai menerima laporan-laporan bahwa suku-suku Kristen di perbatasan Siria, yang dihasut oleh kaum Yahudi dan kaum musyrikin, telah mengadakan persiapan untuk menyerang Medinah. Oleh karena itu, beliau mengirim regu penyelidik terdiri atas lima belas orang untuk menyelidiki kebenarannya. Mereka melihat suatu pasukan berkumpul di tapal batas Siria. Daripada segera kembali untuk memberi laporan, malah mereka menunggu. Semangat tabligh Islam telah menguasai mereka, tetapi akibat hasrat baik mereka terbukti sama sekali bertolak belakang dengan apa yang telah mereka inginkan dan harapkan.

Meninjau kembali peristiwa-peristiwa itu sekarang, kita dapat mengetahui bahwa mereka, yang dikuasai pengaruh hasutan musuh, sedang merencanakan menyerang tanah air Rasulullah s.a.w., tidak dapat diharapkan akan bersikap dan bertindak lain. Mereka sama sekali tidak mau mendengarkan penerangan, malah mengeluarkan busur mereka dan regu yang lima belas orang itu mulai dihujani dengan anak panah. Tetapi regu itu tak bergeming. Penerangan-penerangan mereka dibalas dengan panah, tetapi mereka tidak melarikan diri. Mereka bertahan dengan gigihnya; lima belas melawan ribuan, dan mereka pun gugur.

Rasulullah s.a.w. merencanakan gerakan militer untuk memberi hukuman kepada orang-orang Siria lantaran kekejaman keji itu, tetapi dalam pada itu, beliau menerima laporan bahwa kekuatan yang dipusatkan di perbatasan itu telah bubar. Oleh karena itu, rencana itu ditangguhkan dahulu oleh beliau.

Tetapi, Rasulullah s.a.w. mengirim surat kepada Kaisar Roma (atau kepada pemimpin suku Ghassan yang memerintah di Busra atas nama Roma). Dalam surat itu, kami sangka, Rasulullah s.a.w. menyesalkan persiapan-persiapan yang telah nampak di perbatasan Siria dan pembunuhan yang keji dan sama sekali tak beralasan terhadap lima belas orang Muslim yang telah dikirim oleh beliau untuk mengumpulkan laporan tentang keadaan di perbatasan itu.

Surat itu dibawa oleh Al-Harts, seorang Sahabat. Ia berhenti dalam perjalanan di Mu’ta, tempat ia bertemu dengan Syurahbil, seorang pemimpin Ghassan yang bertindak selaku pembesar Roma. “Apakah kamu utusan Muhammad?” tanya pemimpin itu. Setelah mendapat jawaban, “Ya,” Al-Harts ditangkap, diikat, dan dibunuh. Maka layaklah jika ada persangkaan bahwa pemimpin Ghassan itu pemimpin pasukan yang telah menyatroni dan membunuh kelima belas orang Muslim yang hanya telah berupaya tabligh.

Kenyataan bahwa ia mengatakan kepada Al-Harts, “Barangkali kamu membawa pesan dari Muhammad” menunjukkan bahwa ia takut jangan-jangan pengaduan Rasulullah s.a.w. bahwa orang-orang dari suku di bawah Kaisar telah menyerang orang-orang Muslim akan sampai kepada Kaisar. Ia takut akan diminta pertanggung-jawaban atas apa yang telah terjadi. Ia berpendapat bahwa lebih aman baginya untuk membunuh utusan itu. Harapannya itu tidak terpenuhi. Rasulullah s.a.w. mendapat kabar tentang pembunuhan itu. Untuk mengadakan pembalasan terhadap pembunuhan itu, dan pembunuhan-pembunuhan lainnya sebelum itu, beliau menyusun kekuatan yang terdiri atas tiga ribu prajurit dan dikirimkan ke Siria di bawah pimpinan Zaid bin Haritsa, bekas budak Rasulullah s.a.w. yang telah dimerdekakan, seperti telah kami ceriterakan dalam uraian mengenai kehidupan Rasulullah s.a.w. di Mekkah. Rasulullah s.a.w. menunjuk Jafar ibn Abu Thalib sebagai pengganti Zaid, andai kata Zaid gugur, dan Abdullah bin Rawaha, jika Jafar juga gugur. Jika Abdullah’ bin Rawaha juga gugur, maka kaum Muslimin harus memilih sendiri panglima mereka.

Seorang Yahudi yang mendengar putusan itu berkata, “Wahai Abul Qasim, jika anda Nabi yang benar, ketiga-tiga perwira yang anda tunjuk itu pasti akan mati; sebab, Tuhan menyempurnakan kata-kata seorang Nabi.” Sambil menghadap kepada Zaid ia berkata, “Percayalah kepada kataku, jika Muhammad benar, kamu tidak akan kembali hidup hidup.” Zaid, seorang mukmin sejati, menjawab, “Aku boleh pulang kembali hidup atau tidak, tetapi Muhammad adalah benar Rasul Allah” (Halbiyya, jilid 3, hlm. 75).

Keesokan harinya, pagi-pagi, lasykar Muslim bertolak menempuh perjalanan yang jauh. Rasulullah s.a.w. dan para Sahabat mengantarkannya sampai ke suatu tempat. Suatu gerakan militer yang besar lagi penting dan sebelumnya tak pernah diberangkatkan tanpa Rasulullah s.a.w. sendiri sebagai panglima. Tatkala Rasulullah s.a.w. berjalan untuk mengantar iringan ekspedisi itu beliau memberi nasihat dan perintah. Ketika mereka sampai di tempat orang-orang Medinah biasa mengucapkan kata-kata selamat jalan kepada kawan dan sanaksaudara yang akan berangkat ke Siria, Rasulullah s.a.w. berhenti dan bersabda:

“Aku minta dengan sangat kepadamu supaya takut kepada Tuhan dan berbuat adil terhadap orang-orang Muslim yang berangkat beserta kamu. Pergilah berperang atas nama Allah dan gempurlah musuh di Siria yang adalah musuhmu dan musuh Allah. Jika kamu datang di Siria, kamu akan berjumpa dengan mereka yang banyak mengadakan zikir Ilahi di dalam rumah-rumah peribadatan mereka, kamu hendaknya jangan berbantah dengan mereka dan jangan mengganggu mereka. Di negeri musuh janganlah membunuh wanita atau anak-anak atau orang buta atau orangorang yang sudah tua; jangan menumbangkan pohon atau merebahkanbangunan-bangunan (Halbiyya, jilid 3).

Sesudah memberi petunjuk ini, Rasulullah s.a.w. kembali dan lasykar Muslim berderap maju. Lasykar itu adalah lasykar pertama yang diberangkatkan untuk bertempur dengan kaum Kristen. Ketika lasykar kaum Muslimin itu tiba di perbatasan Siria, mereka mendapat kabar bahwa Kaisar pribadi telah menduduki medan pertempuran dengan seratus ribu orang dari prajuritnya sendiri dan seratus ribu dari suku-suku Kristen di Arabia. Dihadapkan kepada musuh yang begitu besar, kaum Muslim hampir saja berhenti di tengah perjalanan dan melaporkannya kepada Rasulullah s.a.w. di Medinah. Barangkali beliau dapat mengirimkan bala bantuan dan perintah-perintah baru.

Ketika para pemimpin pasukan bermusyawarah, Abdullah bin Rawaha bangkit dan dengan semangat menyala-nyala berkata, “Saudarasaudaraku, saudara-saudara meninggalkan rumah saudara-saudara dengan tujuan mati syahid di jalan Allah, dan sekarang ketika kesyahidan sudah di ambang pintu, saudara-saudara nampak menjadi ragu-ragu. Kita sebegitu jauh tidak pernah bertempur karena lebih unggul daripada musuh dalam jumlah dan persenjataan. Pertolongan utama kita adalah keimanan kita. Jika musuh jauh mengungguli kita dalam jumlah dan perlengkapan, apa salahnya? Salah satu dari dua ganjaran pasti kita peroleh. Kita menang atau mati syahid di jalan Allah.

Lasykar itu mendengar uraian Rawaha dan amat terkesan. Ia benar, kata mereka serempak. Pasukan itu bergerak maju lagi. Saat mereka bergerak, mereka lihat lasykar Roma bergerak juga ke arah mereka. Ketika di Mu’ta, kaum Muslimin mengambil kedudukan dan pertempuran mulai berkobar. Tak lama kemudian Zaid, panglima Muslim, gugur dan saudara sepupu Rasulullah s.a.w., Jafar ibn Abu Thalib, menyambut panji dan pimpinan perang. Ketika dilihatnya tekanan musuh makin kuat dan kaum Muslimin karena kalah tenaga akhirnya tak dapat bertahan, ia turun dari kudanya lalu memotong kaki kudanya. Perbuatan itu berarti bahwa paling tidak ia tidak akan melarikan diri dan bahwa ia lebih suka mati dari pada melarikan diri.

Memotong kaki-kaki binatang tunggangan adalah kebiasaan orang-orang Arab untuk mencegah binatang-binatang melarikan diri kacau-balau dan panik. Jafar terpenggal tangan kanannya, tetapi panji perang dipegang erat dengan tangan kiri. Tangan kiri pun terpenggal pula dan kemudian, ia menahan panji itu di antara kedua lengan buntungnya dan ditekankan ke dadanya. Setia pada sumpahnya, ia tewas dalam pertempuran. Abdullah bin Rawaha, sesuai dengan perintah Rasulullah s.a.w., menyambut panji itu dan mengambil alih kepanglimaan. Ia juga gugur. Perintah Rasulullah s.a.w. kemudian ialah bermusyawarah dan mengangkat panglima sendiri. Tetapi tidak ada waktu untuk mengadakan pemilihan. Kaum Muslim bisa-bisa terpaksa menyerah kepada musuh yang jauh berlipat ganda besarnya. Dalam pada itu Khalid bin Walid yang menerima usul seorang kawannya, menyambut panji perang dan pertempuran terus berlangsung sampai malam tiba. Keesokan harinya Khalid menghadapi musuh lagi dengan tentaranya yang ulung. Diubahnya formasi lasykarnya – barisan yang depan dipindah ke garis belakang dan barisan sayap kanan ditukar dengan barisan sayap kiri. Juga mereka menyerukan semboyan semboyan.
Musuh menyangka bahwa kaum Muslimin telah mendapat bala bantuan semalam dan mereka pun mengundurkan diri dalam ketakutan. Khalid dapat menyelamatkan sisa pasukannya dan pulang kembali. Rasulullah s.a.w. telah mengetahui peristiwa-peristiwa itu dari kasyaf. Beliau mengumpulkan kaum Muslimin di mesjid. Ketika beliau bangkit untuk menyampaikan amanat kepada mereka, mata beliau berkaca-kaca. Beliau bersabda:

“Aku ingin mengatakan kepadamu mengenai lasykar yang telah meninggalkan kita, berangkat ke perbatasan Siria. Lasykar itu menghadapi musuh dan bertempur. Mula-mula Zaid, lalu Jafar dan kemudian Abdullah bin Rawaha memegang panji perang. Ketiga-tiganya gugur bergantian dalam pertempuran dengan gagah berani. Doakanlah mereka itu semua. Sesudah mereka panji dipegang oleh Khalid bin Walid. Ia mengangkat dirinya sendiri. Ia adalah pedang di antara segala pedang Tuhan. Dengan demikian ia menyelamatkan lasykar Islam dan pulang kembali” (Zad al Ma’ad, jilid l, dan Zurqani).

Gambaran Rasulullah s.a.w. mengenai Khalid itu menjadi termasyhur. Khalid menjadi terkenal sebagai Saifullah – Pedang Allah.

Sebagai salah seorang yang masuk Islam belakangan, Khalid sering diejek oleh orang-orang Islam lainnya. Sekali peristiwa ia dan Abd al-Rahman bin Auf berbantah-bantah mengenai sesuatu. ‘Abd al- Rahman bin Auf mengadukan Khalid kepada Rasulullah s.a.w.. Rasulullah s.a.w. menegur Khalid dan bersabda, “Khalid, engkau telah menyinggung perasaan seseorang yang telah berbakti kepada Islam sejak zaman Badar. Aku katakan kepadamu bahwa walaupun kamu telah membaktikan emas seberat bukit Uhud untuk mengkhidmati Islam, kamu tidak akan menjadi berhak atas ganjaran dari Tuhan seperti ‘Abd al- Rahman.”

“Tetapi mereka mengejekku,” kata Khalid, “dan aku terpaksa menjawab.” Atas keterangan itu Rasulullah s.a.w. menghadap kepada orang-orang lainnya dan bersabda, “Kamu jangan menghina Khalid. Ia adalah pedang di antara segala pedang Allah yang senantiasa terhunus menghadapi kaum kafir.”

Gambaran Rasulullah s.a.w. menjadi kenyataan beberapa tahun kemudian.

Pada waktu Khalid kembali bersama lasykar Muslim, beberapa Anshar menggambarkan lasykar yang pulang dari medan itu sebagai pasukan yang kalah perang dan kurang semangat. Yang menjadi celaan umum ialah, mereka seharusnya mati dalam pertempuran. Rasulullah s.a.w. menyesali celaan-celaan itu, Khalid dan lasykarnya bukan orangorang kalah perang atau kurang semangat, sabda beliau. Mereka itu prajurit yang pulang untuk kembali lagi menyerang. Kata-kata itu mengandung arti lebih banyak dari pada yang nampak pada permukaan.
Kata-kata itu memberi khabar ghaib tentang peperangan yang akan dilakukan kaum Muslimin dengan Siria.

(bersambung)

SUMBER:
Life of the Holy Prophert by HM Bashiruddin Mahmud Ahmad

0 Responses to “Pertempuran Mu’ta”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 216,092 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: