FALSAFAH KEBANGKITAN AGAMA

Setiap Muslim, tanpa memandang golongan, mengimani Keesaan Tuhan dan kenabian Nabi Suci Muhammad(s.a.w.). Setiap Muslim mengimani bahwa Islam adalah agama terakhir bagi keselamatan umat manusia. Semua Muslim mengimani bahwa Islam akan terus memenuhi segala keperluan ruhani manusia hingga Hari Kiamat. Semua Muslim mengimani bahwa Syariat yang diwahyukan melalui Nabi Suci Muhammad(s.a.w.) adalah tak dapat berubah dan bahwa Al-Qur-an adalah tak dapat dicampur tangani dan tak dapat berubah bahkan hingga pada titik atau noktahnya. Orang-orang Muslim semuanya dinaungi keyakinan bahwa pendakwaan Nabi Suci Muhammad(s.a.w.) mempunyai keabsahan dan kewenangan hingga akhir umat manusia. Orang-orang Muslim dari setiap golongan beriman bahwa hanya melalui ikatan dengan Nabi Suci Muhammad(s.a.w.) maka cahaya kebenaran abadi boleh didapatkan. Segi-segi keyakinan yang mendasar ini dipunyai oleh semua orang Muslim tanpa kecuali.

Selengkapnya: (tulisan ini merupakan Naskah Ceramah yang Disampaikan Oleh Hadhrat Mirza Tahir Ahmad(r.h.), Khalifatul Masih IV Di Sidney, Australia)

Saya sampaikan kepada kalian hari ini mengenai Falsafah Islam tentang kebangkitan kembali agama. Agama-agama senantiasa bangkit kembali melalui campur tangan Ilahi. Seorang pembaharu diutus oleh Allah Ta’ala untuk memalingkan manusia dari kebendaan (materialisme) dan mengembalikan mereka kepada Pencipta mereka. Seorang pembaharu semacam itu secara terus-menerus menyerukan pengorbanan-pengorbanan yang besar atas nama Tuhan. Dia menghimbau orang-orang untuk bekerja keras dan mencucurkan keringat; untuk tabah dan sabar, dan memberi-tahukan mereka bahwa orang-orang yang mencari kehidupan [hakiki] harus siap untuk berpisah dengan kehidupan mereka. Dia mempersiapkan mereka bagi perjuangan yang lama dan penuh kepedihan terhadap penentangan yang membabi-buta dan penganiayaan di tangan orang-orang yang mereka cintai dan berupaya untuk mereka selamatkan. Sungguh hanya inilah falsafah kebangkitan agama yang benar dan abadi: setiap falsafah yang bertentangan dengan itu adalah khayalan belaka. Walaupun demikian saya harus menyebutkan bahwa seluruh golongan Islam tidak sependapat mengenai masalah ini. Sejumlah besar orang Muslim percaya bahwa suatu perubahan mendasar telah terjadi dalam bentuk kebangkitan agama. Jama’at Muslim Ahmadiyah, sebaliknya, percaya bahwa proses sejarah ini adalah tetap dan tak berubah. Agar tidak menciptakan kesan yang salah pada perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan orang-orang Muslim, saya anggap perlu untuk menguraikan orang-orang yang mempunyai keyakinan dasar yang sama di mana semua orang Muslim terikat padanya, dari golongan apa pun mereka itu.
Setiap Muslim, tanpa memandang golongan, mengimani Keesaan Tuhan dan kenabian Nabi Suci Muhammad(s.a.w.). Setiap Muslim mengimani bahwa Islam adalah agama terakhir bagi keselamatan umat manusia. Semua Muslim mengimani bahwa Islam akan terus memenuhi segala keperluan ruhani manusia hingga Hari Kiamat. Semua Muslim mengimani bahwa Syariat yang diwahyukan melalui Nabi Suci Muhammad(s.a.w.) adalah tak dapat berubah dan bahwa Al-Qur-an adalah tak dapat dicampur tangani dan tak dapat berubah bahkan hingga pada titik atau noktahnya. Orang-orang Muslim semuanya dinaungi keyakinan bahwa pendakwaan Nabi Suci Muhammad(s.a.w.) mempunyai keabsahan dan kewenangan hingga akhir umat manusia. Orang-orang Muslim dari setiap golongan beriman bahwa hanya melalui ikatan dengan Nabi Suci Muhammad(s.a.w.) maka cahaya kebenaran abadi boleh didapatkan. Segi-segi keyakinan yang mendasar ini dipunyai oleh semua orang Muslim tanpa kecuali.
Dengan begitu banyak persamaan, masih tetap ada perbedaan mendasar yang menempatkan Jama’at Muslim Ahmadiyah terpisah dari orang-orang Muslim lainnya – perbedaan mengenai masalah kebangkitan Islam. Semua perbedaan lain timbul dari masalah utama ini.
Bagaimana kebangkitan kembali Islam itu terjadi? Bagaimana kehidupan baru dan semangat baru dihembuskan ke dalamnya? Seperti Jama’at Ahmadiyah, semua Muslim lainnya, juga mengakui bahwa jawabannya terletak pada kedatangan Al-Masih putra Maryam yang dijanjikan, dan kemunculan Imam Mahdi yang dijanjikan (pembaharu yang diangkat Tuhan yang akan mendapat bimbingan Ilahi). Segi ini muncul tepat ketika menafsirkan, sebenarnya ada dua pandangan yang berlawanan pada umumnya.
Jama’at Muslim Ahmadiyah memandang nubuwatan (kabar gaib) kedatangan Al-Masih sebagai bahasa kiasan. Ia meyakini bahwa nubuwatan mengenai Imam Mahdi juga perumpamaan. Kami meyakini bahwa makna hakikinya yang agung dari nubuwatan-nubuwatan ini tidak dapat dipahami jika itu diambil secara lahiriah. Sepenuhnya berlawanan dengan ini, golongan-golongan Islam lain menekankan pada penggenapan harfiah (lahiriah) dari nubuwatan-nubuwatan ini. Inilah perbedaan mendasar yang timbul – dan memisahkan – Jama’at Muslim Ahmadiyah dari golongan-golongan lain.

Latar Belakang Nubuwatan
Kemunduran kaum Muslimin sebelum ini dan perselisihan sesama mereka merupakan masalah-masalah yang mengenainya Nabi Suci Muhammad(s.a.w.) telah diberi kabar. Melalui wahyu Ilahi, beliau menubuwatkan pada seribu empat ratus tahun lampau bahwa kaum Muslimin akan terpecah-belah dalam tujuh puluh tiga golongan. Beliau menggambarkan keadaan kaum Muslimin yang menyedihkan dengan demikian rinci seakan-akan gambaran zaman kita telah dibentangkan di hadapan beliau. Hadits-hadits Nabi berisi gambaran yang jelas sekali mengenai zaman kita. Beliau bersabda, “Islam tidak akan tersisa kecuali namanya. Masjid-masjid, walaupun penuh dengan orang-orang beribadah akan luput dari petunjuk. Para ulama agama mereka akan merupakan makhluk yang paling buruk di kolong langit.” Bagaimanapun, bersamaan dengan tanda-tanda menakutkan itu, beliau juga memberikan kabar-kabar gembira. Beliau bersabda bahwa walaupun ada bahaya yang menakutkan ini, umat Islam tidak akan binasa:

“Bagaimana umatku akan binasa ketika aku di permulaannya dan Isa ibnu Maryam di akhirnya.” (Musnad Ahmad; Kanzul Ummal jilid 7, hal. 203)
Kemudian beliau bersabda:

“Bagaimana keadaan kalian ketika turun Ibnu Maryam di antara kalian; dan dia akan menjadi Imam kalian dari antara kalian?” (Bukhari: Kitabul Anbiya)
Dan beliau mengulangi kabar-kabar itu dengan kata-kata ini:

“Aku bersumpah demi Dia Yang hidupku ada di Tangan-Nya bahwa Ibnu Maryam sungguh akan turun di antara kalian, dan dia akan menjadi hakim yang adil.” (Bukhari: Kitabul Anbiya)
Nabi Suci(s.a.w.) juga memberikan kabar gembira mengenai seorang Imam besar – Imam Mahdi – yang akan muncul bersama Isa, putra Maryam.
Maka, Jama’at Ahmadiyah adalah sama dengan golongan-golongan Muslim lainnya dalam meyakini bahwa kebangkitan Islam dan kemenangan globalnya berhubungan dengan kedatangan Al-Masih dan kemunculan Imam Mahdi. Bagaimanapun, ia berbeda dengan sebagian dalam penafsiran mengenai nubuwatan-nubuwatan ini. Ia menekankan bahwa nubuwatan-nubuwatan itu harus dilihat dalam cahaya hukum Ilahi yang diwahyukan dalam kenyataan dan sesuai dengan sejarah para nabi sebelumnya. Golongan-golongan Muslim lain, sebaliknya, menegaskan bahwa nubuwatan-nubuwatan itu tak mempunyai inti, pesan yang lebih dalam dan memegang makna harfiah (lahiriah)nya.

Konsep Muslim Non Ahmadi
Dengan keadilan kepada para penentang, saya kini akan mencoba untuk menerangkan segi pandang dari para penentang kami yang membandingkan kebangkitan Islam dengan dominasi ekonomi dan politiknya. Mungkin ada penjelasan untuk itu. Nafsu akan kekuasaan dan ketamakan pada harta lazimnya telah menguasai perjuangan manusia. Puncak kebangkitan umat oleh sebab itu akan bermakna kenaikan politik dan ekonomi. Karunia Ilahi, menurut mereka, akan terwujud sendiri dengan tepat untuk membuat hasil ini. Inilah lebih atau kurang, pandangan yang dipegang oleh banyak orang, berkenaan dengan kebangkitan Islam. Menurut kepercayaan ini, kedatangan Al-Masih akan menggembar-gemborkan zaman penaklukan-penaklukan politik Islam sedangkan kemunculan Imam Mahdi akan membawa penguasaan ekonomi mereka.
Pertama, saya akan menggaris bawahi konsep mereka mengenai kedatangan Al-Masih. Mereka percaya bahwa benar-benar Isa, putra Maryam, yang Al-Qur-an nyatakan sebagai seorang Nabi Bani Israil, akan turun secara jasmani dari langit. Beliau akan segera menghunus pedang di tangan dan membantai seluruh musuh Islam! Gerakan global beliau akan mempunyai tiga tujuan besar. Bukan secara kiasan, melainkan secara harfiah (lahiriah)! Beliau akan mengatur penghancuran lambang agama Kristen dengan begitu dahsyat hingga tidak satu jejak pun akan tertinggal darinya. Tidak akan ada satu salib pun yang tetap terlihat – di gereja atau rumah atau melingkati leher.
Menurut mereka, tugas penting beliau yang berikut adalah memusnahkan babi dari setiap jenis – piaraan juga yang liar! Maka, bagi para pengikut salib tidak akan ada salib yang tertinggal pada mereka untuk ibadah tidak pula babi untuk hidangan. Maka, Al-Masih akan menghilangkan unsur-unsur Kristen tidak hanya makanan ruhani mereka tapi juga hidangan jasmani mereka.
Tugas ketiga bagi Al-Masih adalah membunuh Dajjal. Kini siapakah Dajjal itu? Menurut riwayat-riwayat, jika diambil secara harfiah, sebagaimana sebagian orang lakukan, dia adalah raksasa bermata satu yang akan datang mengendarai keledai berukuran luar biasa. Dia juga akan begitu tingginya hingga kepalanya akan berdiri lebih tinggi dari pada awan-awan. Semua nabi telah memperingatkan para pengikut mereka terhadap kejahatan Dajjal ini. Kini, ketika Dajjal sedang sibuk membuat kerusuhan di bumi Al-Masih akan turun dari langit. Beliau akan terlibat perang melawan Dajjal dekat Damaskus dan membunuhnya. Beliau kemudian akan menaklukkan seluruh dunia. Sesudah melakukan ini, beliau akan menyerahkan kekuasaannya ke tangan orang-orang Muslim.
Inilah, secara ringkas, falsafah kebangkitan dan kekuasaan politik orang-orang Muslim. Hal itu membebaskan orang-orang Muslim secara keseluruhan dari melakukan perjuangan politik sama sekali. Kini, orang-orang yang sedang bersenang-senang dalam jaminan itu bahwa mereka akan mewarisi bumi tanpa menggerakkan otot tak mungkin dapat ada alasan untuk peduli dengan pemikiran dan tindakan politis. Mereka hidup dalam kelalaian yang penuh bahagia dari kerusakan dan kemunduran mereka. Sebab, terlepas dari setiap sesuatu, mereka mengetahui dengan sangat pasti bahwa saat bahagia itu tidak jauh ketika seorang manusia Ilahi akan turun dari langit dan melakukan gerakan penaklukan-penaklukan. Beliau akan membunuh babi. Beliau akan mematahkan salib. Beliau akan mengatasi semua kekuatan Timur dan Barat. Kemudian, beliau akan memberikan isyarat kepada orang-orang Muslim yang sedang menunggu dan mengatakan, “Datanglah kemari, hai para prajurit Tuhan; datanglah ke sini, hai orang-orang soleh! Datang dan ambillah tongkat kekuasaan kerajaan di bumi ini.” Inilah pandangan kebangkitan Muslim yang suka berperang yang Muslim Ahmadi tidak sukai. Mereka sama sekali tidak mengikutinya dalam [pengertian] harfiah (lahiriah).
Kemudian berlanjut pada konsep Muslim non Ahmadi mengenai kebangkitan ekonomi Islam. Para ulama golongan lain memegang pandangan bahwa obat bagi keadaan ekonomi Muslim yang menyedihkan bukan terletak pada perjuangan dan pengorbanan melainkan pada kemunculan Imam Mahdi. Imam Mahdi ini akan merupakan Al-Masih masa kini. Tindakan beliau yang paling penting adalah akan membagi-bagikan harta kekayaan yang tak terbatas di kalangan kaum Muslimin di seluruh dunia. Anugrah beliau akan tak terbatas; kemurahan beliau tak dapat diuraikan. Harta kekayaan yang berlimpah-limpah ini akan jauh melampaui batas orang-orang Muslim untuk menyimpannya. Maka akan berakhir nafsu terhadap harta benda dan keserakahan terhadap emas. Inilah obat mujarab, seperti yang dibayangkan sebagian orang, bagi masalah-masalah ekonomi dunia Islam. Menurut kepercayaan ini, kemunculan Imam Mahdi itu sendiri merupakan jawaban bagi kesulitan ekonomi orang-orang Muslim. Tak perlu adanya [cucuran] keringat, air mata dan perjuangan. Tak ada perlunya untuk meneliti khazanah-khazanah bumi, meneliti inti atom dan mengungkapkan rahasia-rahasia angkasa. Tidak pula upaya ataupun industri, tidak pula daya cipta ataupun penerapan yang diperlukan. Semuanya itu hanyalah diperlukan kedatangan Mahdi! Lagi kita berbeda dan kita Muslim Ahmadi mendapati konsep ini kekanak-kanakan, kasar dan tak dapat diterima.

Penafsiran Menurut Muslim Ahmadi
Walaupun Jama’at Muslim Ahmadiyah sama sekali tidak menolak nubuwatan berkenaan dengan turunnya Al-Masih dan kemunculan Al-Mahdi, ia menekankan bahwa menetapkan makna lahiriah terhadapnya adalah sungguh kenaifan dan kejahilan. Kita percaya bahwa sebagai hasil dari kurang memahami sepenuhnya ketinggian derajat Nabi Suci Muhammad(s.a.w.) maka kesalahan serius semacam itu terjadi dalam memahami pesan beliau yang mendalam dan berfalsafah. Orang-orang yang berwawasan dan bijak sering kali menggunakan permisalan dan perumpamaan untuk menerangkan masalah-masalah yang sangat penting tapi pandangan mata yang dangkal tidak dapat menangkap maknanya.
Orang-orang Muslim Ahmadi meyakini bahwa seluruh rangkaian bahasan-bahasan yang meliputi Al-Masih, Dajjal dan keledai tunggangannya merupakan kiasan. Al-Masih, oleh sebab itu, bukanlah nabi terdahulu yang diutus di kalangan Bani Israil. Para Ahmadi percaya bahwa Isa Al-Masih (Yesus Kristus) wafat secara alami setelah selamat dari derita penyaliban. Al-Masih yang dinubuwatkan sebenarnya adalah wujud baru yang lahir di kalangan para pengikut Nabi Suci Muhammad(s.a.w.). Karena beberapa sifat dan keistimewaan beliau serupa dengan Nabi Isa (Yesus), beliau diberikan gelar “Al-Masih, Ibnu Maryam” dengan cara yang sama seperti seorang penulis drama besar disebut Shakespeare. Rujukan tentang salib, juga merupakan kiasan. Al-Masih tidak akan secara harfiah berkeliling mematahkan palang-palang salib: beliau akan mengalahkan keyakinan ajaran Kristen dengan dalil yang kuat dan alasan yang penuh kekuatan. Pematahan salib, oleh sebab itu, berlaku bagi kemunduran ideologi ajaran Kristen. Sama halnya, perkataan ‘babi’ tidak dapat diambil dalam makna harfiah. Ia bermakna budaya cabul dunia barat yang memalingkan manusia ke dalam sifat-sifat hewan. Kata babi mengacu pada apa yang disebut sebagai kebebasan seksual yang sedang melanda Amerika dan Eropa. Ia mengacu pada pesta pora menjijikkan yang bahkan memakan anak-anak tak bersalah sebagai korbannya. Hadits-hadits kebanyakan tidak menerangkan secara pasti bahwa Al-Masih akan memburu gerombolan babi-babi baik liar atau piaraan. Ini akan merupakan gambaran yang mengherankan dari seorang nabi Tuhan. Itu akan lebih mengingatkan orang pada Ajax, seorang pahlawan dari dongeng Yunani, yang mencincang kawanan sapi-sapi dan gerombolan domba-domba dengan keyakinan menggila bahwa mereka adalah panglima tentara Yunani!
Dajjal, seperti juga Al-Masih, salib dan babi adalah perlambang. Dia melambangkan satu bangsa yang besar dan berkuasa yang memerintah bukan hanya di bumi melainkan juga di angkasa. Salib dan babi sebenarnya merupakan lambang-lambang mengenai bangsa ini. Riwayat-riwayat mengatakan bahwa mata kanan Dajjal buta tapi mata kirinya akan besar dan terang. Ini merupakan gambaran kiasan atas kenyataan bahwa walaupun bangsa ini mahrum dari cahaya ruhani namun pandai dalam kebendaan dan oleh sebab itu pencapaian kebendaannya sangat besar.
Terakhir, orang-orang Muslim Ahmadi menafsirkan keledai kendaraan Dajjal juga sebagai kiasan – kiasan yang digunakan untuk menggambarkan sarana-sarana pengangkutan masa mendatang. Semua ciri khas yang menggambarkan keledai ini tanpa kecuali dapat dikenali dengan kendaraan-kendaraan berbahan bakar yang ditemukan oleh bangsa barat. Lihatlah ciri-ciri khas yang menonjol dari keledai itu – seperti digambarkan dalam hadits-hadits – ia akan makan api, ia akan berjalan menjelajahi darat, laut dan udara; kecepatannya akan demikian besar hingga ia akan menjadikan perjalanan berbulan-bulan dalam beberapa jam; para penumpang akan melakukan perjalanan tidak di punggungnya tapi dalam perutnya yang akan mengumumkan keberangkatannya dan meminta para penumpang untuk mengambil tampat duduk mereka. Penggenapan hal-hal ini dengan ketepatan yang demikian mengagumkan merupakan bukti kebenaran dari Nabi Suci Muhammad(s.a.w.).
Menurut Muslim Ahmadi, nubuwatan-nubuwatan mengenai kedatangan Imam Mahdi juga berupa perlambang. Harta kekayaan yang beliau akan bagi-bagikan di kalangan orang-orang Muslim merupakan harta kekayaan ilmu keruhanian dan hikmah, dan bukan harta kekayaan duniawi. Penolakan sebagian orang untuk menerimanya lebih lanjut menandakan berupa apa harta kekayaan itu; sebab manusia tak pernah terpuaskan dengan harta kekayaan kebendaan: hanya kekayaan ruhani yang dia tolak.
Dengan demikian Ahmadiyah menolak falsafah kebangkitan Islam seperti yang diterangkan di atas dan disebarkan oleh golongan-golongan Islam lainnya. Ia menganggap bahwa falsafah ini bertentangan dengan maksud hakiki dari ajaran-ajaran Al-Qur-an, bertentangan dengan sejarah para nabi dan yang paling nyata bertentangan dengan amalan-amalan yang diperagakan Nabi Suci Muhammad(s.a.w.). Ahmadiyah menghindarkan diri dari ideologi beracun ini yang melenakan bangsa-bangsa menjadi tak mau beramal dan membawa mereka dalam dunia kepercayaan yang dibuat-buat dan khayalan.

Falsafah Ahmadiyah Mengenai Kebangkitan Agama
Falsafah ini tak berbeda dengan warisan yang lazim pada semua agama. Ini merupakan satu-satunya falsafah yang didukung sejarah. Walaupun kitab-kitab suci dan riwayat-riwayat menyebutkan banyak orang yang naik ke langit, tidak ada satu contoh atau catatan pun, sejak Nabi Adam(a.s.), mengenai salah seorang dari mereka yang secara jasmani kembali lagi ke bumi.
Maka, tanpa memandang perbedaan mengenai cara kenaikan ke langit yang diakui sebagian orang, tak ada seorang pun yang dilaporkan telah kembali ke bumi sesudah lama menghilang. Para pembaharu telah selalu muncul dari kalangan manusia biasa dan telah senantiasa ditolak dan dicaci-maki oleh manusia. Tak ada upacara-upacara indah pernah diselenggarakan untuk menyambut mereka. Tak ada karangan bunga yang ditawarkan. Tak ada lampu-lampu dinyalakan dengan kegembiraan yang cerah. Sebaliknya, orang-orang yang datang atas nama Tuhan dianiaya karena sedang melakukan “kejahatan” ini. Jalan-jalan mereka ditaburi dengan duri-duri. Debu ditaburkan pada kepala mereka dan batu-batu dilontarkan kepada mereka. Mereka dimahkotai dengan mahkota duri. Setiap penganiayaan yang dapat dilakukan, ditimpakan kepada mereka. Anda sekalian perhatikan mereka sekarang, kembali dari kota Thaif bermandikan darah dari kepala hingga kaki. Anda perhatikan mereka lagi, di medan perang Uhud, orang-orang yang setengah mati karena luka-luka yang mereka derita, tertimbun di bawah jenazah orang-orang yang menyerahkan jiwanya demi mereka.
Kalian akan mendapatkan para pengikut mereka mengalami nasib yang sama. Setiap penganiayaan yang dapat dilakukan, ditimpakan kepada mereka. Mereka diseret pada kaki-kaki mereka di sepanjang lorong-lorong yang kasar. Mereka dibaringkan pada hamparan pasir yang panas membara di bawah terik matahari. Mereka dilemparkan dalam bara yang sedang menyala dan dibiarkan di sana hingga bara api itu padam.
Mereka dihalau dari rumah-rumah mereka. Mereka diasingkan. Mereka diancam dengan kelaparan. Mereka diancam dengan pedang. Para suami dipisahkan dari istri-istri mereka dan para istri dipisahkan dari suami-suami mereka. Orang-orang tua dipisahkan dari anak-anak mereka. Setiap hak yang merupakan anugrah kehidupan diasingkan dari mereka. Mereka tidak diperbolehkan untuk shalat tidak pula membangun masjid-masjid. Mereka dimahrumkan dari hak untuk menyatakan keyakinan mereka. Mereka bahkan tidak diizinkan untuk menamakan keimanan mereka sendiri.
Maka orang dianugrahi dengan ruh kehidupan yang baru. Inilah jalan yang membawa pada kebangkitan agama. Ini merupakan gejala yang kita perhatikan berlaku pada masa kehidupan Nabi Suci Muhammad(s.a.w.) dan pada kehidupan setiap nabi sebelum beliau. Adalah dengan menapak jalan yang penuh bahaya ini maka para nabi telah menghidupkan kembali kaum-kaum mereka. Ini merupakan falsafah kebangkitan agama sejak zaman Nabi Adam(a.s.) hingga zaman Nabi Suci Muhammad(s.a.w.). Jika demikian masalahnya, bagaimana kemudian kita dapat menerima bahwa Allah Ta’ala telah memutuskan untuk mengubah kebiasaan yang tak dapat diganggu gugat dan abadi ini? Bagaimana kemudian kita dapat menerima bahwa kaum Muslimin akan mewarisi bumi tanpa menumpahkan setetespun darah mereka dan tanpa membuat suatu upaya? Bagaimana kita dapat mempercayai bahwa mereka akan berhasil tanpa menempuh jalan pengorbanan? Itu tidak terjadi sebelumnya. Itu tidak akan terjadi kemudian. Hadhrat Masih Mau’ud(a.s.), pendiri Jama’at Muslim Ahmadiyah, meyakinkan akan kebenaran yang kekal dan abadi ini ketika beliau memperingatkan umat demikian:
“Tak ada seorang nabipun yang tidak diperolok. Maka akan terjadi bahwa orang-orang memperolok Masih Mau’ud (Al-Masih yang dijanjikan). Allah Ta’ala berfirman:

‘Sayang sekali hamba-hamba-Ku, tidak ada seorang rasul yang datang kepada mereka kecuali mereka memperoloknya’. (36:31)
Maka itu merupakan satu tanda dari Tuhan bahwa setiap nabi diperolok-olok. Kini, siapa yang dapat memperolok-olok orang yang secara jasmani turun dari langit dengan disertai para malaikat di tengah-tengah keramaian orang-orang yang sedang menunggu? Orang bijak, oleh sebab itu, dapat melihat bahwa turunnya Masih yang dijanjikan secara jasmani dari langit adalah kepercayaan yang salah. Ingatlah! Tak seorangpun akan turun dari langit. Semua orang yang menentangku dan kini masih hidup akan mati dan tidak seorangpun dari antara mereka akan melihat Isa, putra Maryam, turun dari langit. Kemudian anak-anak mereka dan anak-anak dari anak mereka, juga akan mati, dan Ibnu Maryam masih tidak akan turun. Kemudian Tuhan akan memenuhi kalbu-kalbu (hati) mereka dengan ketakutan bahwa masa-masa kemegahan salib telah berlalu namun Isa Ibnu Maryam tidak turun dari langit. Orang yang bijak kemudian akan jemu dengan kepercayaan ini. Dan sebelum tiga abad berlalu sejak hari ini, orang-orang Muslim dan Kristen juga akan meninggalkan kepercayaan yang salah ini dengan muak dan putus asa. Hanya akan ada satu agama di dunia ini dan hanya satu pimpinan. Aku datang hanya untuk menaburkan benih. Benih ini telah ditanam dengan tanganku. Ia kini akan tumbuh dan menghasilkan buah dan tak ada kekuatan di bumi yang dapat menghalanginya.” (Tadzkiratusy Syahadatain, hal. 64-65)
Setiap orang yang berpikiran adil dapat melihat dari perbandingan ini bahwa segi pandang Ahmadiyah itu berdasarkan pada sejarah agama-agama sedangkan falsafah para penentangnya adalah khayalan dan bertentangan dengan sejarah kebangkitan agama. Kita kaji dari sejarah bahwa setiap orang yang diangkat Tuhan dihadapkan dengan badai perlawanan. Semua nabi datang dengan pesan kebenaran dan kehidupan abadi tapi ditentang oleh orang-orang yang lebih menyukai kepalsuan dari pada kebenaran, dan kematian ruhani dari pada kehidupan ruhani. Ini sungguh merupakan proses kelahiran agama-agama. Ketika ketidak sucian dan kerusakan menjalar ke dalam agama, kebangkitannya juga mengambil cara yang sama. Para pembaharu yang diutus Tuhan juga mengalami penderitaan seperti yang para nabi derita. Bila saja Allah Ta’ala memilih untuk membangkitkan kembali suatu kaum secara ruhani, itu terbagi menjadi dua golongan – orang-orang yang melihat (menerima) kebenaran dan orang-orang yang menentangnya. Dan tak ada kelompok yang pernah berubah dari sikap yang ditunjukkan. Kitab Suci Al-Qur-an menggambarkan hal ini berulang-ulang dengan cara yang paling bagus dan menarik. Kajian Al-Qur-an menunjukkan bahwa:
a) Agama-agama lahir dan bangkit kembali melalui para pembaharu utusan Ilahi. Tak pernah ada para ulama yang pernah memperbaharui agama melalui konperensi-konperensi dan konsultasi.
b) Para pembaharu yang diutus Ilahi itu tanpa kecuali ditolak oleh orang-orang dan diperlakukan dengan kejahilan dan penghinaan.
c) Para pembaharu semacam itu selalu ditentang dengan kekerasan. Mereka dituduh merusak agama para leluhur mereka. Mereka dicap sebagai menyimpang dan dipersalahkan sebagai murtad.
d) Keputusan yang diambil oleh para penentang menetapkan hukuman mati atau pembuangan ke negeri lain sebagai hukuman bagi yang murtad.
e) Para pembaharu tak pernah melakukan kekerasan. Para pengikut mereka memperagakan kesabaran dalam derajat yang demikian tinggi hingga mereka lebih suka diasingkan atau dibunuh dari pada berpaling [dari keyakinannya].
f) Para pembaharu tidak memikat orang-orang dengan janji-janji akan kekuasaan dan kedudukan tinggi: mereka mengesampingkan ambisi duniawi. Mereka tidak mengiming-imingi orang-orang dengan harta kekayaan; mereka menanamkan jiwa pengorbanan. Orang kaya yang percaya [pada pembaharu itu] menganggap bahwa itu merupakan kesempatan baik mereka untuk memberikan semua milik mereka dalam khidmat di jalan Tuhan; orang besar tidak menghiraukan perangkap kekuasaan. Itu kemudian bahwa karunia Ilahi memutuskan mereka layak untuk mengemban kekuasaan pada masanya.
Ini merupakan proses kebangkitan agama dari bangsa-bangsa yang Al-Qur-an dan kitab-kitab suci lain ungkapkan. Semua nabi – dari Nabi Adam hingga Nabi Suci Muhammad – melalui tahap-tahap ini. Mereka memberikan kehidupan baru kepada kaum-kaum mereka dengan membimbing kaum mereka melewati jalan penderitaan dan pengorbanan. Mereka mengajarkan cinta kasih. Mereka menanamkan kecintaan pada kerja keras, upaya gigih dan amalan tak henti-hentinya. Itulah ruh revolusioner yang menghembuskan kehidupan atas kaum-kaum yang mati. Hukum Ilahi yang selalu diperagakan dan tak berubah ini adalah bersesuaian dengan fitrah, kata hati dan kesadaran manusia. Adalah hukum ini yang Jama’at Ahmadiyah ketahui.
Seperti yang dapat diketahui, konsep Jama’at Muslim Ahmadiyah tentang kebangkitan kembali agama bukan merupakan falsafah baru yang lahir dari pemikiran manusia. Itu berasal dari proses sejarah yang terus menerus dan tak berubah-ubah yang dikemukakan dengan cara yang paling tepat dan benar dalam Kitab Suci Al-Qur-an. Ia berdasarkan pada prinsip-prinsip dan kebenaran abadi itu yang merupakan dasar kebenaran setiap agama. Misalnya, Al-Qur-an menyatakan:

“Tak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya, yang benar telah nyata dari yang salah; maka barang siapa yang menolak thaghut dan beriman kepada Allah, sungguh dia telah berpegang teguh pada pegangan yang tak kenal putus. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah:257)

“Sayang sekali hamba-hamba-Ku, tidak ada seorang rasul yang datang kepada mereka kecuali mereka memperoloknya.” (Yasin:31)

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka sendiri mengubah yang ada pada dirinya.” (Ar-Ra’ad:12)
Ketika Nabi Syu’aib(a.s.) diancam oleh kaum beliau:

“Kami akan mengusir engkau, hai Syu’aib, dan orang-orang yang percaya kepadamu dari kota kami atau kalian harus kembali kepada agama kami.”
Beliau hanya menjawab, “Walaupun kami tak menghendaki?” (Al-A’raf:89)
Kaum Nuh(a.s.) juga mengancam beliau dengan batu jika beliau bertahan.

“Mereka berkata, “Jika engkau tidak berhenti, hai Nuh, engkau pasti menjadi salah seorang yang dirajam.” (Asy-Syu’ara:117)
Ancaman ini tidak hanya ditujukan kepada beberapa nabi. Al-Qur-an merangkum sikap orang-orang kepada para nabi dengan kata-kata berikut ini:

“Dan orang-orang yang tak beriman itu berkata kepada para rasul, ‘Kami pasti akan mengusir kalian dari negeri kami kecuali kalian kembali kepada agama kami’.” (Ibrahim:14)
Nabi Ibrahin(a.s.) dihukum agar kembali kepada agama leluhur beliau dan berhenti menyuarakan kebenaran. Para pemimpin menzahirkan kemarahan mereka dengan menyatakan:

“Mereka berkata, “Bakar dia dan tolonglah tuhan-tuhan kalian, jika kalian bermaksud berbuat sesuatu.” (Al-Anbiya:69)
Nabi Isa (Yesus Kristus) dipakukan pada kayu salib karena beliau tak setuju dengan para ulama Yahudi atas penafsiran Alkitab (Bible) walaupun beliau menyuarakan secara terbuka:
“Janganlah kamu menyangka, bahwa aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” (Matius pasal 5, ayat 17, 18)
Izinkan saya mengingatkan anda sekalian bahwa perbedaan utama antara Nabi Isa(a.s.) dan para ulama Yahudi adalah pada penafsiran ayat “Lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai.” (2 Raja-raja, pasal 2, ayat 11). Para ulama itu menekankan pada makna harfiah dan lahiriah dari ayat itu. Mereka meyakini bahwa Elia (Ilyas) akan turun secara jasmani dari langit sebelum kedatangan Al-Masih (kristus). Nabi Isa (Yesus Kristus), sebaliknya, menegaskan bahwa ini merupakan kiasan, berupa bahasa perlambang dan bukan lahiriah. Beliau menyatakan bahwa Nabi Yahya(a.s.) putra Nabi Zakaria(a.s.) adalah Elia (Ilyas) yang turun dari langit. Nabi Isa sepenuhnya mengetahui bahwa Nabi Yahya lahir di bumi dan tentu tidak turun dari langit. Dalam menjawab pertanyaan “Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?”, beliau menjawab:
“Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga anak manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa dia berbicara tentang Yahya Pembaptis. (Matius pasal 17, ayat 10-13)
Terakhir dan di atas segalanya adalah penderitaan dari Nabi Suci Muhammad(s.a.w.). Dalam sabda beliau sendiri, “Tak ada nabi yang menderita sebanyak yang aku alami.”
Oleh sebab itu, sejarah agama-agama mengajarkan kepada kita bahwa para nabi adalah selalu merupakan manusia biasa. Mereka tidak turun dari langit seperti para pahlawan dari cerita khayalan. Mereka selalu mengalami cobaan dan penderitaan. Para pengikut mereka meraih kejayaan bukan melalui kerja keras orang lain melainkan melalui keringat dan darah mereka sendiri.

Sumber: Buku “Revival of Religion”, penerbit “Islam International Publication Ltd”, edisi ketiga tahun 1989.

Terjemahan: Abu Solahuddin, Gresik

15 Responses to “FALSAFAH KEBANGKITAN AGAMA”


  1. 1 Muslim June 29, 2015 at 5:59 am

    Lain dari pada yang lain.

  2. 2 Cahyani June 30, 2015 at 7:22 am

    Ya sekedar info, ini berbeda dengan yang diyakini kebanyakan orang dalam kalangan kita.

  3. 3 Faisal; August 16, 2015 at 1:09 pm

    Ilmiah, berbobot dan masuk akal.

  4. 4 Rozyta August 18, 2015 at 7:15 am

    Tidak rugi sama sekali membaca artikel ini.

  5. 5 Siti Zaharah August 29, 2015 at 4:08 am

    Ya, saya senang bisa menemukan tulisan yang demikian bagus. Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

  6. 6 Juli August 29, 2015 at 6:28 am

    Pencerahan-pencerahan baru agaknya.

  7. 7 Maria Ulfah September 10, 2015 at 12:01 pm

    Senang sekali dapat membaca uraian ini. Semoga bermanfaat bagi para pembaca semuanya. Mau ngeprint boleh gak ya??

  8. 8 Zainal September 10, 2015 at 12:06 pm

    Sejarah selalu berulang terjadi. Semoga menjadi bahan pelajaran bagi kita sekalian.

  9. 9 Zakiyah October 8, 2015 at 2:34 am

    Mantap nih.

  10. 10 Sudarto October 21, 2015 at 5:05 am

    Mendekati kenyataan zaman sekarang… Benarkah?

  11. 11 musa December 10, 2015 at 5:35 am

    bgus lnjutkn dkwah mu

  12. 12 dyahkinantiblog February 1, 2016 at 4:21 am

    masuk akal…..dan semoga kita selalu dalam petunjukNYA

  13. 13 Arman February 10, 2016 at 4:53 am

    Wah baru menjumpai yang semacam ini.

  14. 14 Mulyanto Muhtar March 5, 2016 at 2:49 am

    Uraian yang jelas dan bagus luas biasa…
    Semoga bermanfaat bagi semua kalangan.

  15. 15 Nafis July 15, 2016 at 3:43 pm

    Baru bagi saya. No komen saja lah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 215,909 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: