KESETIAAN TERBAGI

Dalam suatu pemilihan presiden Amerika dua calon bertarung di medan laga – Nixon dan Kennedy. Karena ia seorang Katolik, Kennedy disangsikan mengenai kesetiaannya kepada jabatannya sebagai presiden. Orang-orang Katolik adalah pengikut Paus dan mereka keras dalam disiplin agama. Jika kepentingan Amerika menghendaki suatu hal, sedangkan Paus (atau kepercayaan Kennedy sendiri) menghendaki yang lain apa yang akan diperbuat Kennedy? Dari dua kesetiaan yang bertabrakan itu, mana yang akan ia pilih? Apakah ia akan memilih negeri dan kedudukan tingginya? Atau apakah ia akan memilih kepercayaan Katoliknya? Apakah ia akan memainkan peranan presiden penuh seratus persen? Ataukah itu akan dikompromikannya dengan ketaatan kepada Paus?
Secara lihai Kennedy memecahkan masalah itu dan ia melepaskan diri dengan suatu jawaban sederhana. Sekiranya kedua kesetiaan itu – kepada Paus dan kepada jabatan presiden – bentrok, kata Kennedy, ia akan melepaskan jabatan presiden dan akan tetap tinggal sebagai seorang Katolik biasa (Time, 26 September 1960).

Jawaban Kennedy ternyata memuaskan orang-orang Amerika. Suara terbanyak mereka memihak Kennedy dan ia terpilih menjadi presiden.

Tetapi jika ditinjau lebih dalam jawaban Kennedy tak dapat dikatakan betul, biar pun dari segi pandangan Kristen. Bukankah Yesus sendiri pernah dihadapi masalah seperti itu? Apa jawaban Yesus? Tidakkah ia berkata, “Bayarlah kepada Kaisar barang yang Kaisar punya, dan kepada Tuhan barang yang Tuhan punya.” (Matius 22:21). Kennedy tidak mau berkata demikian. Mungkin sekali oleh karena ia tidak ingin popularitasnya merosot dalam pandangan pemberi-pemberi suara Amerika. Kalau ia berbuat demikian pemilih-pemilih itu mungkin sekali akan bingung. Mereka akan sangsi apakah Kennedy orang Amerika yang cukup baik.

Berbagai hubungan
Tetapi hal ini tidak membuat jawaban Yesus kurang jelas atau kurang betul. Kesetiaan mempunyai berbagai hubungan. Dalam setiap hubungan itu ia menempuh jalannya sendiri. Menurut pengertian dan pendapat kami kalau kita bertekad tetap setia dalam setiap hubungan itu dan bersikap tulus terhadap Tuhan, kita tidak akan memperoleh kesulitan, tidak akan menghadapi pertentangan. Yesus sendiri berbicara kepada Israil, tidak kepada manusia umumnya. Jawabannya terbatas oleh hubungannya, oleh negerinya dan oleh kaumnya. Yang terpikir olehnya hanya Kaisar. Ia tidak menempatkan persoalan itu pada pengertian universal.

Pengertian-pengertian Islam berbeda dari itu. Islam adalah universal. Ia untuk semua orang di mana saja, dalam semua jenis hubungan. Ajaran Islam memaparkan pokok kesetiaan-kesetiaan itu dalam pengertian-pengertian yang melingkupi setiap keadaan. Prinsip-prinsip Islam adalah universil. Prinsip-prinsip itu bertalian dengan segala macam situasi. Karena itu orang-orang Muslim tidak mempunyai kesulitan-kesulitan, penangguhan-penangguhan mengenai hal itu, tidak mempunyai kekuatiran, pertentangan atau kebingungan. Kita dapat menegakkan kepala kita lurus-lurus. Kita tidak malu, tidak bimbang mengenai apa yang harus kita lakukan dalam suatu keadaan tertentu. Sanubari yang bersih itu kita peroleh berkat karunia Tuhan kita. Kita akui ini dengan kerendahan hati.

Bacalah ayat Al-Qur’an Suci (4:60):

“Wahai orang-orang beriman, patuhlah kepada Tuhan dan patuhlah kepada Nabi dan pemegang-pemegang kekuasaan dari antara kalian.” Ungkapan Arab Pemegang-pemegang kekuasaan dari antara kalian tak boleh menyesatkan orang kepada persangkaan bahwa kesetiaan kepada penguasa-penguasa hanya terbatas pada penguasa-penguasa Muslim. Tidak, sama sekali tidak. Ayat itu mengajarkan supaya patuh kepada siapa saja yang berkuasa. Dari antara kalian (Arabnya: Min) juga berarti atas atau dari atau dalam. Ayat ini mengajarkan kepatuhan dan disiplin dalam urusan-urusan umum. Ia menyatakan bahwa setia kepada yang sedang memegang kekuasaan adalah suatu kewajiban dalam Islam. Dalam ayat itu pemerintah dan yang diperintah dilukiskan sebagai satu golongan. Ayat itu menyiratkan bahwa suatu masyarakat atau kaum selamanya terdiri dari pemerintah dan yang diperintah. Yang diperintah harus taat kepada yang memerintah. Oleh karena itu salah sekali kalau diperselisihkan arti ayat itu, dan diberi makna bahwa pemegang-pemegang kekuasaan yang harus dipatuhi orang-orang Islam haruslah orang Islam.

Suatu kesalahan besar

Hadhrat Masih Mau’ud(A.S.), Pendiri Jama’ah Ahmadiyah, menulis tentang ayat ini dengan jelas sekali, “Al-Qur’an Suci memerintahkan ‘Patuhlah kepada Allah dan patuhlah kepada Nabi-Nya dan orang-orang yang berkuasa di antara kalian’. Orang-orang yang beriman harus taat kepada yang berkuasa, selain kepada Tuhan dan Nabi-Nya. Mengatakan bahwa dalam orang-orang yang berkuasa tidak termasuk pemerintah bukan Islam, adalah suatu kesalahan besar. Karena suatu pemerintah – atau penguasa – yang peraturannya sesuai dengan syariat (yakni, peraturan-peraturan itu tidak tegas-tegas bertentangan dengan syariat) adalah penguasa-penguasa dari antara kalian. Orang-orang yang tidak menentang kita adalah dari antara kita. Jadi Al-Qur’an tegas tentang hal itu. Patuh kepada kekuasaan pemerintah adalah salah satu perintahnya. (Karya dan pidato, Jilid I, hal. 261)

Begitu pula dalam hadits. Rasulullah(S.A.W.) bersabda, “Ia yang patuh kepadaku patuh kepada Tuhan; ia yang membangkang kepadaku membangkang kepada Tuhan. Ia yang patuh kepada penguasanya patuh kepadaku; ia yang membangkang kepada penguasanya membangkang kepadaku.” (Muslim, Kitabul Imarah).

Dalam hadits ini seluruh kepatuhan diterangkan sejelas-jelasnya. Kesetiaan dan kepatuhan menurut hakikatnya teruntuk bagi Tuhan, Pencipta, Pemilik, dan Penguasa dari manusia dan bangsa-bangsa. Kekuasaan yang dipunyai lain-lainnya diambil dari kekuasaan Tuhan. Mereka itu hanya memantulkan Kekuasaan yang merupakan milik Tuhan. Seorang nabi adalah wakil dari Tuhan, seorang rasul yang membawa perintah-perintah Tuhan. Patuh kepada nabi adalah patuh kepada Tuhan. Demikian pula seorang yang mempunyai kekuasaan atas manusia, bertanggung jawab atas disiplin, atas ketertiban di antara para makhluk Tuhan; ia menjadi penjaga kehidupan, harta dan kehormatan mereka. Kepatuhan kepada orang semacam itu menyebabkan Tuhan senang. Dalam tingkat apa pun kepatuhan adalah satu dan sama saja dan itu ialah ketaatan kepada Tuhan. Benar sekali yang dikatakan Nabi Muhammad( S.A.W.), “Patuh kepadaku adalah patuh kepada Tuhan dan patuh kepada penguasa adalah patuh kepadaku.”

Sesuai dengan semua ini (Al-Qur’an Suci, Hadits Nabi Muhammad, tulisan Hadhrat Masih Mau’ud), Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Khalifatul Masih II( R.A.) mengajarkan supaya orang setia atau loyal kepada negaranya. Dengan tegas beliau bersabda, “Keyakinan kami ialah bahwa Islam menghendaki agar setiap orang loyal kepada negara di mana ia berada …. Persangkaan bahwa kaum Ahmadi di India dan Pakistan akan tetap loyal kepada pemerintah mereka masing-masing hanya selama Imam Ahmadiyah menuntut supaya mereka berbuat demikian, adalah perkiraan yang bodoh dan tak wajar. Dalam hal ini Imam Ahmadiyah tak punya hal istimewa. Kewajibannya ialah memudahkan, melaksanakan ajaran dan jiwa Islam. Bukan untuk mengubah satu titik pun dari padanya. Tugasnya ialah ‘Untuk menggenapkan bukan untuk menghancurkan’…. Menurut hemat kami setia kepada satu pemerintah atau negara diperintahkan oleh Al-Qur’an Suci dan Al-Qur’an adalah kitab Tuhan ….. Imam atau Khalifah Ahmadiyah tak punya hak untuk mengubah suatu perintah yang terdapat dalam Al-Qur’an Suci. Khalifah adalah pengganti, bukan diktator. Seorang wakil terikat oleh wewenang, seperti juga lain-lainnya.” (Al-Fazal, 5 April 1949).

Pada tempat lain beliau bersabda, “Pegawai-pegawai pemerintah, asisten-asisten, kerani-kerani – kewajiban dari setiap kalian untuk melaksanakan perintah-perintah atau petunjuk-petunjuk yang dikeluarkan bagimu oleh pemerintah adalah kewajiban khusus dan berat. Bila pemerintah membuat suatu hal mengikat maka tak boleh ada suatu penyimpangan dari padanya, sekalipun hanya sehalus rambut sehelai. Kepercayaan yang tulus ikhlas tidak mengandung suatu lainnya.”

Kalau seorang diangkat untuk berbakti kepada pemerintah, sejak itu ia memasuki suatu perjanjian khidmat. Perjanjian itu ialah bahwa ia dengan sepenuh-penuhnya, jujur dan tulus akan melaksanakan tugas-tugas yang dilimpahkan kepadanya. Kalau ia menyalahi janji, maka ia akan bertanggung jawab kepada pemerintah dan Tuhan. Ia membahayakan kepercayaannya, hubungannya dengan Tuhan.” (Al-Mushlih, 18 Juni 1958).

Bencana
Dalam pengertian umum juga tampak jelas sekali bahwa suatu gerakan yang berikhtiar memperoleh pengikut-pengikut, anggota-anggota, orang-orang yang percaya pada semua bagian dunia tak dapat tidak harus berpegang pada prinsip bahwa setiap orang harus loyal kepada pemerintah dari negeri di mana ia hidup. Jika hal itu kurang sedikit saja, akan timbul bencana. Sebaliknya dari perdamaian dan itikad baik, maka kekacauan dan kehancuranlah yang akan timbul. Itu bencana bagi gerakan itu, dan sangat menyuburkan bagi tumbuhnya persengketaan-persengketaan besar-besaran, yang akan memusnahkan hubungan baik manusia di seluruh dunia. Sekiranya orang-orang Ahmadi sedikit saja menaruh kebijaksanaan, mereka tidak akan memelihara suatu garis perjuangan yang akan mengakhiri riwayat mereka sendiri, atau yang akan memusnahkan perdamaian umum.
Dewasa ini orang-orang Ahmadi terdapat dalam banyak bagian dunia, di luar Pakistan dan India, di Malaysia, Indonesia, Iran, Iraq, Syiria, Mesir, bagian-bagian Afrika Timur (seperti Kenya, Uganda, Tanganyika), bagian-bagian Afrika Barat (seperti Nigeria, Ghana, Sierra Leone), Swiss, Nederland, Jerman, Inggris, Amerika, Kanada, Amerika Selatan dan lainnya. Bahkan di luar Pakistan dan India pun, pada berbagai tempat jumlah mereka ribuan, dan jumlah ini kian bertambah. Gerakan demikian akan menetaskan bencana kalau ia mulai campur tangan dalam berbagai kesetiaan. Buat gerakan semacam itu kesetiaan terbagi-bagi hanya akan mencelakakan – mencelakakan secara ruhani dan jasmani.

Situasi khayali

Orang sering mengemukakan suatu situasi khayali. Dua negeri, keduanya berpenduduk Ahmadi, terperosok ke dalam peperangan. Orang-orang Ahmadi dalam dua negeri itu berjanji setia kepada pemerintah mereka masing-masing. Apa yang akan diperbuat kaum Ahmadi dalam keadaan semacam itu? Masihkah mereka akan memihak pemerintah mereka masing-masing, dan akan melibatkan diri dalam pertempuran antara sesama mereka? Itu bukan soal baru. Tidak bagi kami, dan tidak pula bagi dunia selebihnya. Jawaban kami selalu begini: Ya, dalam keadaan semacam itu pun kaum Ahmadi akan tetap setia kepada pemerintah mereka masing-masing. Kepercayaan kami ini bukan bikinan kami sendiri. Ia adalah kepercayaan yang diajarkan Tuhan dan diterangkan oleh Nabi-Nya. Itu adalah kepercayaan yang tak dapat kami ubah atau palsukan. Seandainya loyalitas kepada pemerintah mereka masing-masing mengakibatkan saling bunuh di antara kaum Ahmadi, tak ada lagi yang dapat dikatakan atau diperbuat. Itu hanya suatu konsekuensi, suatu keharusan yang menjadi natijah dari kepercayaan kami. Prinsip-prinsip lebih tinggi dari diri orang. Orang-orang dapat dikorbankan untuk kepentingan prinsip-prinsip, bukan prinsip-prinsip untuk kepentingan orang-orang. Saling bunuh itu akan diampuni oleh Tuhan Pengasih dan Pengampun dari Al-Qur’an. Itu hanya akan menjadi akibat dari ajaran-Nya sendiri, dari keadaan-keadaan yang tidak dapat kami kuasai.

Tetapi situasi itu bukanlah khayali. Sejarah penuh dengan contoh-contoh di mana terjadi pertempuran di antara penganut-penganut dari kepercayaan yang sama. Orang-orang Hindu melawan Hindu, Kristen melawan Kristen, Muslim melawan Muslim.
Orang-orang beriman menewaskan sesama mereka, kadang-kadang dalam jumlah beberapa ratus ribu. Peperangan paling ganas dalam sejarah dilakukan tanpa sebab, dan dengan akibat yang paling menyedihkan. Orang-orang Ahmadi mungkin melakukan perkelahian dan pembunuhan di antara sesama mereka, untuk membela suatu prinsip dari Tuhan – prinsip keloyalan kepada negara di mana masing-masing Ahmadi itu berada. Peperangan semacam itu adalah suatu keharusan yang dapat dimengerti. Jadi orang-orang Ahmadi mungkin akan bertempur pada pihak-pihak yang berlawanan. Tetapi selagi bertempur mereka juga akan berdo’a untuk pulihnya perdamaian, suatu perdamaian yang membuat dunia aman buat kebenaran dan keadilan.

Benar, kaum Ahmadi terikat oleh kesetiaan ruhani kepada seorang Pemimpin, atau Imam. Orang mungkin bertanya: Bagaimana mereka dapat diizinkan ikut serta dalam saling bunuh itu? Jawabannya juga sama: Imam Ahmadiyah bukanlah diktator atau penguasa yang dapat berbuat semaunya atau memerintah pengikut-pengikutnya sekehendak hatinya. Imam atau Khalifah Ahmadiyah sendiri tunduk kepada Hukum Islam, Syariat. Syariat berada di atas Khalifah, bukan Khalifah di atas Syariat. Kami dapat mengutip keterangan Hadhrat Khalifatul Masih II( R.A.), “Tak seorang khalifah pun berwenang mengubah sesuatu peraturan Tuhan. Khalifah bukanlah diktator. Ia hanya seorang wakil. Ia berkewajiban untuk menjalankan suatu undang-undang, untuk melaksanakan perintah-perintah pihak lain. Ia harus tunduk kepada undang-undang itu, perintah-perintah itu, seperti halnya orang-orang lain dalam Jama’at.” (Al-Fazal, 5 April 1949).

Lembaga Ruhani

Kita juga harus ingat bahwa khilafat Ahmadiyah adalah suatu lembaga ruhani. Ia tidak mempunyai dan tidak mencari kekuasaan politik, kenegaraan, bahkan asosiasi dengan suatu negara. Kaum Ahmadi mencari kemajuan hanya dengan cara-cara ruhani. Mereka dan Imam mereka puas hidup sebagai warga-warga negara yang setia di bawah pemerintah-pemerintah yang menjamin kebebasan dalam urusan-urusan agama.
Bukankah orang-orang Katolik bertempur melawan sesama Katolik, yang menjadi rakyat berbagai negeri, berbagai negara? Sedangkan orang-orang Katolik terikat oleh kesetiaan kepada Paus, percaya kepadanya dan taat kepadanya, seakan-akan ia Tuhan di bumi (oleh karena ia wakil dari Kristus, penjelmaan Tuhan). Bukan hanya orang-orang Katolik. Orang-orang Muslim berperang melawan orang-orang Muslim dalam masa Khalifah-khalifah Abbasiyah, yang khilafat mereka dianggap sah oleh semua golongan ahlu sunnah wal jama’ah. Dalam masa khilafat Turki orang-orang Islam bertempur antara satu dengan lainnya, sedangkan mereka mengikatkan kesetiaan pada satu Khalifah atau Imam. Kenyataan-kenyataan ini berbicara jelas dan nyaring. Hal-hal itu membuktikan bahwa pengikut-pengikut dari kepercayaan yang satu dan sama, yang menyangkutkan kesetiaan ruhani pada pemimpin dan imam yang satu itu juga, dapat berperang antara satu dengan lainnya. Kenapa orang-orang Ahmadi tidak? Mengapa mereka tidak dapat dianggap akan berbuat semacam itu? Kenapa mereka tidak bisa setia kepada Imam mereka, tetapi setia pula kepada negara-negara di mana mereka berdiam?
Pendeknya, sikap Ahmadiyah jelas dan bersih. Perlukah kami ulangi bahwa kami orang-orang Ahmadi yang tinggal dalam berbagai negeri, di bawah berbagai negara dan pemerintah, adalah setia kepada negeri-negeri di mana kami berada, kepada negara-negara dan pemerintah-pemerintah di bawah mana kami hidup? Kaum Ahmadi di Pakistan adalah loyal kepada Pakistan, berkepentingan untuk berusaha dan berdo’a buat kemajuan dan kesejahteraannya. Begitu pula kaum Ahmadi di India adalah loyal kepada India. Kedudukan ini adalah tak dapat dielakkan. Kedudukan itulah yang dipahamkan dengan jelas oleh almarhum Qaid-i-Azam Ali Jinnah dalam 1947. Kepada orang-orang Islam di India, beliau mengemukakan bahwa mereka wajib setia kepada India.
Orang-orang Ahmadi di Indonesia setia kepada Indonesia, kaum Ahmadi di Syiria kepada Syiria, orang-orang Ahmadi di Mesir kepada Mesir, kaum Ahmadi di Afrika Barat kepada pemerintah-pemerintah mereka masing-masing, orang-orang Ahmadi di Jerman loyal kepada Jerman, kaum Ahmadi di Inggris setia kepada Inggris, di Amerika kepada Amerika, dan begitu seterusnya. Ini perintah Tuhan dan suara hati nurani kami. Dan orang yang tidak percaya kepada kami dan menisbahkan beberapa kepercayaan lain kepada kami, adalah menghina Tuhan dan berbuat salah besar terhadap kami.
Dan akhir seruan kami, pujian sejati adalah untuk Allah Sendiri, Tuhan sekalian alam.

Oleh: Hadhrat Mirza Basyir Ahmad(R.A.)
Disadur dari buku “Masalah Kesetiaan Terbagi” penerbit Jema’at Ahmadiyah Indonesia, 1979. Terjemahan: Syafi R. Batuah.

3 Responses to “KESETIAAN TERBAGI”


  1. 1 Viky August 11, 2016 at 2:44 am

    Ini soal nasionalisme ya?

  2. 2 Bisma August 11, 2016 at 11:34 am

    Oh begitu ya? Saya baru tahu nih…..

  3. 3 A Jabat December 21, 2016 at 1:06 am

    Bagus sekali.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 219,913 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup

%d bloggers like this: