NASIHAT KHILAFAH DALAM MENGHADAPI ANCAMAN PERANG DUNIA KE-3


[1]  Al-Maidah, 5:9

Sebelum saya masuk ke tema pokok, izinkan saya menyampaikan sedikit mengenai Khilafah Ahmadiyah. Ini perlu saya sampaikan karena di tanah air saat ini, masalah Khilafah sedang menjadi pembicaraan masyarakat dan menimbulkan pro-kontra.

Pertama, Khilafah Ahmadiyah, berdiri sesuai dengan janji Allah s.w.t., dalm Alquran Surah An-Nur: 56, Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh,  Ia  pasti akan menjadikan bagi mereka seorang Khalifah di bumi, sebagaimana Ia telah menjadikan seorang Khalifah kepada orang-orang sebelum mereka, untuk meneguhkan bagi mereka agama mereka, dan untuk memberikan rasa aman, setelah rasa takut mencekam mereka.[1]   

Kedua, Khilafah Ahmadiyah adalah Khilafah ‘alaa minhajin-nubuwah – Khilafah yang mengikuti jejak kenabian, sesuai dengan nubuwat Baginda Nabi Muhammad s.a.w.:

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ …. ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ …. ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا…. ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً……. ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

Akan berdiri nubuwah (kenabian), di dalam kamu hingga waktu yang di kehendaki Allah,…..kemudian akan berdiri khilafah yang mengikuti jejak kenabian,….kemudian akan berdiri kerajaan yang menggigit (diktator),…. kemudian akan berdiri kerajaan yang menyombong,….. kemudian akan berdiri khilafah yang mengikuti jejak kenabian.[2]   

Di sebut Khilafah ‘alaa minhajin-nubuwah, karena Khilafah Ahmadiyah, berdiri sama dengan Khilafah ‘alaa minhajin-nubuwah periode pertama: Hadhrat Abu Bakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., dan Ali r.a., yakni di awali dengan kebangkitan Nabi Muhammad s.a.w., sepeninggal Nabi Muhammad s.a.w., dan mengikuti jejak kenabian Nabi Muhammad s.a.w..

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana bisa, Khilafah Ahmadiyah, berdiri di awali dengan kebangkitan Nabi Muhammad s.a.w., bukankah Khilafah Ahmadiyah berdiri 13 abad setelah Baginda Nabi Muhammad s.a.w., tiada?

Ijinkan saya menjelaskan secara singkat, supaya semuanya mengerti dan faham.

Al-Quran Surah Al-Jum’ah:3-4, menubuwatkan, Nabi Muhammad s.a.w., akan dibangkitkan/diutus/datang, dua kali. Pertama, kepada kaum ummiyyiin (bangsa arab), dan kedua, kepada kaum aakhariiin (bukan bangsa arab).[3]

Nabi Muhammad s.a.w., yang dibangkitkan/diutus/datang kepada kaum  ummiyyiin, adalah haqiqi Muhammad, Nabi Muhammad s.a.w., langsung. Sedangkan Nabi Muhammad s.a.w., yang dibangkitkan/diutus/datang kepada kaum  aakhariiin, akan di wakili oleh wakil agung dan pecinta sejati beliau  s.a.w.,  –  dari garis ayah berdarah Salman al-Farisi [4], sementara dari garis ibu berasal dari Fatimah az-Zahra r.a., putri Baginda Nabi s.a.w..[5]

Wakil agung, pecinta sejati, dan dhill – bayangan, Nabi Muhammad s.a.w.,  itu, mazhar pada diri Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., Pendiri Jemaat Ahmadiyah.[6]

Beliau menjadi dhill – bayangan, Nabi Muhammad s.a.w., menjadi perwujudan kedatangan kedua kali Nabi Muhammad s.a.w., karena ke-fana-an beliau kepada Baginda Nabi Muhammad s.a.w.. Ke-fana-anya begitu rupa larutnya sehingga tidak ada lagi hijab yang membatasi.

Dalam Kitab Haqiqatul Wahyu, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., menyatakan: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjadikanku Mazhar (penampakkan) bagi seluruh nabi dan di nisbatkan (Allah) kepadaku nama-nama mereka: saya Adam, saya Syits, saya Nuh, saya Ibrahim, saya Ishaq, saya Isma’il, saya Ya’qub, saya Yusuf, saya Isa, saya Musa, saya Daud, dan saya adalah penampakan sempurna (mazhar kamil) dari Muhammad s.a.w., artinya saya adalah bayangan Muhammad.” [7] 

Dalam kitab Ek Ghalati Ka Izala beliau menyatakan: “Aku adalah seorang nabi dan utusan Tuhan karena aku adalah bayangan dan cerminan dari Nabi Muhammad s.a.w., serta buruzi-nya, dan hanya berdasarkan hal inilah Tuhan menamaiku Nabi dan Rasul dalam bentuk buruzi berkali-kali. Diriku sendiri tidak ada. Diriku telah diliputi Nabi Muhammad s.a.w.. Itulah sebabnya aku dikatakan Muhammad dan Ahmad. Jadi, kenabian dan kerasulan Muhammad s.a.w., tetap beserta beliau dan tidak di alihkan kepada orang lain”.[8]

Dalam kitab Tajaliyati Ilahiyah, beliau menyatakan: “Ringkasnya, atas dasar itu aku adalah ummati juga, lagi pula Nabi. Dan kenabianku, yakni  mukalamah mukhatabah Ilahiyyah, adalah bayangan dari kenabian Rasulullah s.a.w., dan tanpa itu kenabianku tiada artinya. Kenabian dari Nabi Muhammad s.a.w., itulah yang telah zahir pada diriku. Dan oleh karena aku hanyalah semata-mata Dhilly (bayangan) serta Ummaty, maka hal demikian tidaklah mengurangi keagungan Rasulullah s.aw.”.[9]

Ada empat istilah di gunakan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., dalam pernyataanya diatas: 1) Mazhar Kamil Muhammad, untuk status sebagai perwujudan kedatangan kedua kali Nabi Muhammad s.a.w.. 2) Dhillun-Nabi, 3) Buruzy-Nabi, dan 4) Ummaty-Nabi, untuk status sebagai Nabi yang menjadi bayangan, cerminan, dan ummat, dari Nabi Muhammad s.a.w..

Dhillun-Nabi, Buruzyn-Nabi, dan Ummaty-Nabi, adalah bentuk kenabian baru dalam sejarah kenabian, tetapi bukan nabi baru. Disebut baru, karena bentuk kenabian ini baru ada setelah Rasulullah s.a.w., dan hanya bisa dicapai melalui jendela Sirat Siddiqi,jendela Fanaa fir-Rasul s.a.w..[10]  Kenabian Dhilly, Buruzy, dan Ummaty, pada hakikatnya adalah kenabian Nabi Muhammad s.a.w., juga, yang zahir dalam satu corak yang baru.[11]

Ketiga, Khilafah Ahmadiyah juga di kenal sebagai Khilafah Al-Masih, atau Khalifatul Masih. Ini di sebabkan karena Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., selain memproklamirkan diri sebagai mazhar kamil, ummati, dhil, buruz Nabi Muhammad s.a.w., beliau juga memproklamirkan diri sebagai Al-Masih Al-Mau’ud – Al-Masih Yang Dijanjikan Kedatangannya oleh Nabi Muhammad s.a.w., dan Imam Mahdi.[12]

Keempat, Khilafah Ahmadiyah, berdiri, juga sesuai dengan nubuwat Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s.. Dalam Kitab Al-Wasiat beliau menulis: “Aku datang dari Tuhan sebagai sebuah penzahiran Kudrat Ilahi, dan aku adalah Kudrat Tuhan yang berjasad. Kemudian sesudah aku tiada, akan ada lagi beberapa wujud lain yang akan menjadi mazhar penampakan Kudrat Kedua”.[13]

Kudrat Kedua yang di maksud oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., adalah Khilafah seperti Hadhrat Abu Bakar r.a., setelah Rasulullah s.a.w., wafat. [14] Dan, benar saja, setelah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., wafat, tampil Hadhrat Maulana Hakim Nuruddin r.a., Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad r.a., Hadhrat Mirza Nasir Ahmad r.a., Hadhrat Mirza Tahir Ahmad r.h.a., dan yang ke lima sekarang Hadhrat Mirza Masroor Ahmad a.t.b.a., sebagai Khilafat. 

Jadi, kehadiran Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., sebagai perwujudan kedatangan kedua kali Nabi Muhammad s.a.w., –  mazhar kamil, dhil, buruz, ummati, Nabi Muhammad s.a.w., dan Al-Masih Al-Mau’ud, telah membuka jalan: Khilafah ‘alaa Minhaajin-nubuwwah berdiri kembali, dan memastikan, Khilafah Ahmadiyah adalah Khilafah ‘alaa Minhaajin-nubuwwah periode kedua, dan sebagai Khilafatul Masih, yang sebelumnya telah di khabargaibkan akan berdiri oleh Baginda Nabi Muhammad s.a.w..

Di tanah air saat ini banyak yang keberatan dan menolak konsep khilafah. Keberatan dan penolakan itu bisa di maklum, karena khilafah yang di usung beberapa kelompok Islam itu adalah khilafah politik, berorientasi pada kekuasaan, bahkan berniat mengubah bentuk negara, dan mengganti sistem yang ada. Jemaat Ahmadiyah, juga keberatan dan menolak khilafah politik seperti itu, apalagi dinisbahkan sebagai Khilafah alaa Minhaajin-nubuwwah. Sebab, Khilafah alaa Minhaajin-nubuwwah bukan khilafah politik, tetapi khilafah bercorak spiritual atau agama.

Khilafah Ahmadiyah ke-5, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad a.t.b.a., di depan Parlemen Inggris, menyatakan: “Dengan mengacu kepada Khilafat, Anda mungkin merasa khawatir, suatu saat akan datang ketika sejarah berulang, yaitu di mulainya perang sebagai akibat dari bentuk kepemimpinannya. Biarkan saya meyakinkan Anda, bagaimanapun, walau tuduhan ini diletakkan terhadap Islam, Insya Allah, Khilafat Ahmadiyah akan selalu di kenal sebagai standar pembawa damai dan harmoni di dunia, serta setia kepada negara di mana anggotanya bermukim. Khilafat Ahmadiyah hadir untuk mengabadikan dan melanjutkan missi Al-Masih dan Al-Mahdi, sehingga sama sekali tidak ada alasan untuk takut terhadap Khilafat”. [15]

Khilafah Ahmadiyah sudah 111 tahun berdiri. Selama 111 tahun masa ke-khilafahan-nya, sudah terbukti, tidak ada indikasi berorientasi pada politik kekuasaan, apalagi mengubah bentuk negara, dan mengganti sistem yang ada.

Khilafah Ahmadiyah fokus pada gerakan spiritual/agama: memperbaiki aqidah, ibadah dan akhlaq umat, membangun hubungan antara manusia dengan Tuhan dan mengajak manusia agar cenderung untuk memenuhi hak hidup satu sama lain, sehingga mereka dapat hidup rukun, saling menghargai dan menghormati.

Khilafah Ahmadiyah tour dakwah ke seluruh penjuru dunia, yang di kampanyekan hanya ini:  (1) loyalty  – kesetiaan, (2) freedom kemerdekaan, (3) equalitykesetaraan, (4) respectmenghargai, menghormati, (5) peacekedamaian,(6) love for all hatred for none – mencintai semua, tidak ada kebencian kepada siapa pun.

Cintanya kepada kemanusiaan, dan semangatnya memperjuangkan terciptanya keadilan dan perdamaian dunia, Imam Jemaat Ahmadiyah ke-5, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad a.t.b.a., pun di kenal dunia sebagai:  A Man of Pecae.

Berbeda, sangat jauh berbeda, dengan khilafah politik, seperti yang di usung Hizbut Tahrir, atau organisasi Islam lain yang juga mengusung ide Khilafah.

Meminjam istilah Kang Ulil Abshar Abdalla: Khilafah politik berkuasa di tanah. Sementara khilafah spiritual berkuasa atas hati dan pikiran. Perjuangan khilafah spiritual bukan merebut kekuasaan duniawi, tetapi simpati hati dan pikiran publik. Khilafah Ahmadiyah adalah sejenis “Kingdom of heart“, sementara khilafah politik ala Hizbut Tahrir adalah “Kingdom of the body“.[16]

Kang Ulil benar. Oleh karena itu, Khilafah Ahmadiyah tidak harus di khawatirkan, lebih-lebih ditolak. Bahkan, umat Islam, seyogiyanya menyambutnya dan menerimanya.[]

Sidang Jalsah Yang Berbahagia!

Sekarang, saya akan kembali ke tema pokok, yaitu: Nasihat Khilafah Ahmadiyah Dalam Menghadapi Ancaman Perang Dunia Ke-3.

Pada 22 Oktober 2008, Khilafah Ahmadiyah ke-5, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad a.t.b.a., berpidato di hadapan Parlemen Inggris. Dalam pidatonya, beliau menyampaikan:

“Hari ini, terdapat agitasi besar dan keresahan di dunia. Kita melihat perang dengan skala kecil sedang meletus, sementara di beberapa wilayah, negara-negara adikuasa mengklaim, mereka sedang mencoba membawa perdamaian. Jika prasyarat keadilan tidak dipenuhi, kobaran perang dan api perang lokal ini akan menyebar dan menjadi  pertengkaran di seluruh dunia. Karenanya, ini adalah permohonan dengan segala kerendahan hati saya kepada Anda, selamatkan dunia dari kehancuran!”.[17]

Kemudian, pada 7 Maret 2012, kepada Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, Khilafah Ahmadiyah ke-5, menyampaikan:

“Dengan sangat menyesal saya sampaikan, jika kita amati keadaan dunia dewasa ini, kita menemukan, fondasi perang dunia telah di letakkan. Seperti banyak negara, baik besar maupun kecil, di antara mereka telah memiliki senjata nuklir, dendam dan permusuhan terus meningkat. Dalam kondisi manusia seperti itu, dasar Perang Dunia III hampir pasti telah ada di depan kita. Seperti Anda ketahui, dengan ketersediaan senjata nuklir akan berarti, Perang Dunia III akan menjadi perang atom. Hasil akhirnya akan menjadi bencana besar, dan efek jangka panjang dari perang tersebut dapat menyebabkan generasi masa depan akan lahir dengan kondisi cacat fisik dan cacad genetik”. [18]

Kemudian, pada 8 Maret 2012, kepada Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, Khilafah Ahmadiyah ke-5, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad a.t.b.a., menyampaikan:

“Seperti kita semua sadari, penyebab utama yang menyebabkan Perang Dunia Kedua adalah kegagalan Liga Bangsa-Bangsa dan krisis ekonomi, yang di mulai pada tahun 1932. Hari ini, para ekonom menyatakan banyak persamaan antara Krisis Ekonomi saat ini dengan krisis tahun 1932. Kami amati, masalah politik dan ekonomi sekali lagi menyebabkan perang di antara negara-negara kecil, dan perselisihan internal serta ketidakpuasan menjadi marak dalam negara-negara, pada akhirnya ini akan menghasilkan kekuatan tertentu yang muncul dengan mengendalikan pemerintahan, yang kemudian akan membawa kita ke perang dunia. Jika konflik di negara-negara kecil tidak dapat di selesaikan melalui politik atau diplomasi, hal itu akan membentuk blok dan pengelompokan baru di dunia. Ini akan menjadi pemicu untuk pecahnya Perang Dunia Ketiga”.[19]

Dalam satu dasa warsa terakhir, dalam berbagai kesempatan dan tempat, Khilafah Ahmadiyah ke-5, dengan rasa khawatir, banyak  mengingatkan para pemimpin dunia, tentang keadaan ke mana dunia saat ini akan menuju – ini bukan untuk menciptakan alarm melainkan untuk mengajak mereka berfikir tentang bagaimana dunia telah sampai pada keadaan demikian dan bagaimana mencegah terjadinya bencana agar terjadi perdamaian dan keamanan bagi semua orang yang mendiami desa global ini.

Beliau mengatakan: saat ini, perang dengan skala kecil sedang meletus, sementara di beberapa wilayah, negara-negara adikuasa mengklaim, mereka sedang mencoba membawa perdamaian. Ada ketidak adilan. Dan, jika prasyarat keadilan tidak dipenuhi, kobaran perang dan api perang lokal akan menyebar, dan akan menjadi  pertengkaran di seluruh dunia.

Krisis ekonomi saat ini, kata beliau, sama dengan krisis ekonomi tahun 1932. Masalah politik dan ekonomi, menyebabkan perang di antara negara-negara kecil. Jika konflik di negara-negara kecil tidak dapat di selesaikan melalui jalur diplomasi, maka hal itu akan membentuk blok dan pengelompokan baru di dunia. Ini akan menjadi pemicu untuk pecahnya Perang Dunia Ketiga.

Dan, beliau mengatakan lagi, dengan ketersediaan senjata nuklir, akan berarti, Perang Dunia III akan menjadi perang atom. Hasil akhirnya akan menjadi bencana besar, dan efek jangka panjang dari perang tersebut dapat menyebabkan generasi masa depan akan lahir dengan kondisi cacat fisik dan cacad genetik.

Demi mencegah terjadinya bencana global yang menghancrukan, dan di dorong oleh rasa cintanya kepada kemanusiaan, perdamaian dan keamanan bagi semua orang yang bermukim di desa global ini, Khilafah Ahmadiyah ke-5, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad a.t.b.a., pun lalu menyampaikan pesan dan permohonan kepada para pemimpin dunia, al:

Kepada Paus Benedictus XVI, melaui suratnya tanggal 31 Oktober 2011:, beliau menyampaikan:

“Karena Anda memiliki suara yang berpengaruh di dunia, saya mendorong Anda untuk juga menyampaikan kepada dunia yang lebih luas bahwa dengan menghambat dalam menempatkan jalan keseimbangan alam yang di tetapkan oleh Tuhan, maka mereka sedang bergerak cepat menuju pemusnahan. Pesan ini perlu di sampaikan lebih lanjut dan lebih luas dari sebelumnya dan dengan upaya yang jauh lebih besar. Semua agama di dunia membutuhkan kerukunan di antara umat beragama dan semua orang di dunia membutuhkan semangat cinta, kasih sayang dan persaudaraan. Ini adalah doa saya bahwa kita semua memahami tanggung jawab kita dan memainkan peran dalam membangun perdamaian dan cinta, dan untuk pengakuan Pencipta kita di dunia. Kita masing-masing memiliki cara berdoa, dan kami selalu memohon kepada Allah, agar kehancuran dunia ini bisa di hindari. Kami berdoa agar kita di selamatkan dari kehancuran yang menanti kita.[20]

Kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melaui suratnya tanggal 26 Februari 2012, beliau menyampaikan:

Permohonan saya kepada Anda ialah dari pada mengarahkan dunia ke dalam cengkeraman Perang Dunia, maka lebih baik melakukan upaya maksimal untuk menyelamatkan dunia dari bencana global. Dari pada menyelesaikan sengketa dengan kekuatan, Anda harus mencoba untuk mengatasinya dengan dialog, sehingga kita dapat memberikan generasi mendatang dengan masa depan yang cerah, bukan memberi “hadiah” kepada mereka dengan kecacatan dan kelumpuhan”.[21]

Kepada Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, melaui suratnya tanggal 7 Maret 2012, beliau menyampaikan:

“Yang Terhormat Presiden,

Assalamu ‘alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh,

Mengingat betapa parahnya situasi perselisihan yang muncul di dunia, saya merasa perlu menulis surat kepada Anda, karena Anda adalah Presiden Iran, dan dengan demikian Anda memegang otoritas untuk membuat keputusan yang akan mempengaruhi masa depan bangsa Anda dan juga dunia pada umumnya. Saat ini terdapat hasutan besar dan kegelisahan di dunia. Di beberapa daerah kecil, terjadi perang berskala kecil, sedangkan di tempat lain juga terjadi terkait dengan negara adidaya bertindak atas nama menciptakan perdamaian. Setiap negara yang terlibat dalam kegiatan untuk membantu atau pun menentang negara lain, membuat persyaratan bagi keadilan semakin jauh.

Saya mengakui, Israel telah berbuat di luar batas-batasnya, dan matanya sedang mengincar Iran. Memang, jika negara mana pun melampaui batas terhadap negara Anda, tentu Anda memiliki hak untuk membela diri. Namun setiap perselisihan sejauh mungkin harus di selesaikan melalui diplomasi dan negosiasi.

Ini adalah permohonan saya yang rendah ini kepada Anda, dari pada menggunakan kekerasan, gunakalah dialog untuk mencoba menyelesaikan konflik. Alasan mengapa saya memohon hal ini, karena saya adalah pengikut Orang Pilihan Tuhan yang datang di era ini sebagai Hamba Sejati Nabi Suci Muhammad s.a.w. dan yang mendakwakan dirinya sebagai Al-Masih yang Dijanjikan serta Imam Mahdi. Misinya adalah untuk membawa manusia lebih dekat kepada Allah dan untuk membangun hak-hak manusia dengan cara yang di tunjukkan kepada kita oleh Guru dan Panutan kami, Rahmatal lil aalamiin, Nabi Suci Muhammads.a.w.. Semoga Allah Ta’ala memungkinkan umat Muslim untuk memahami ajaran yang indah ini”. [22]

Kepada Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, melaui suratnya tanggal 08 Maret 2012, beliau menyampaikan:

“Permohonan saya kepada Anda, dan juga kepada semua pemimpin dunia, adalah  dari pada menggunakan kekerasan untuk menekan negara-negara lain, lebih baik menggunakan cara diplomasi, dialog dan kebijaksanaan. Kekuatan utama dunia, seperti Amerika Serikat, harus memainkan peran mereka menuju pembentukkan perdamaian. Mereka tidak harus menggunakan tindakan keras kepada negara-negara kecil dengan alasan telah mengganggu keharmonisan dunia.

Saat ini, senjata nuklir tidak hanya dimiliki oleh Amerika Serikat dan negara besar lainnya, melainkan juga negara yang relatif lebih kecil memiliki senjata pemusnah massal itu, di mana saat mereka memegang kekuasaan, sering terjadi adanya pemimpin yang bertindak tanpa berpikir panjang atau pertimbangan. Oleh karena itu, saya dengan kerendahan hati, memohon kepada Anda untuk berusaha secara maksimal, mencegah negara-negara besar dan kecil dari terjadinya Perang Dunia Ketiga.

Seharusnya tidak ada keraguan dalam fikiran kita. jika kita gagal dalam tugas ini, maka akibat dari perang semacam itu tidak akan terbatas hanya pada negara-negara miskin di Asia, Eropa dan Amerika, melainkan juga pada generasi masa depan kita akan menanggung konsekuensi yang mengerikan ini, karena tindakan kita, maka anak-anak di daerah manapun, akan lahir dengan cacat fisik atau menderita kelumpuhan. Mereka tidak akan pernah memaafkan orang tua mereka yang memicu dunia ke arah bencana global.

Dari pada hanya memikirkan kepentingan pribadi kita, kita harus mempertimbangkan generasi mendatang dan berusaha untuk menciptakan masa depan yang cerah bagi mereka. Semoga Tuhan Yang Maha Tinggi memungkinkan Anda dan semua pemimpin dunia untuk memahami pesan ini”.[23]

Selain mengimbau para pemimpin dunia agar menghindari kekerasan, dan lebih mengedepankan dialog dalam menyelesaikan konflik, dalam pesan-pesannya kepada pemimpin dunia, beliau juga mengajukan solusi untuk mengatasi krisis politik dan ekonomi dunia yang bisa menyulut berkobarnya api perang dunia ketiga.

Beliau dengan jelas menyatakan, satu-satunya cara untuk memastikan perdamaian bagi dunia adalah dengan menjalankan cara-cara kerendahan hati, keadilan, tulus, taat dan kembali kepada Tuhan, yang karenanya manusia akan menjadi manusiawi.  Yang kuat, agar melayani yang lemah dan miskin, dengan bermartabat dan rasa hormat, disertai keadilan. Sementara yang lemah dan miskin, juga menunjukkan rasa terima kasih dan menjalankannya dengan cara kebenaran dan keadilan, serta kemudian semua berpaling kepada Pencipta mereka, dengan penuh kerendahan hati dan ketulusan.

Menurut beliau, satu-satunya cara untuk keluar dari ambang bencana bagi negara-negara adalah menegakkan keadilan dengan persyaratan mutlak dalam hubungan mereka satu sama lain. Beliau mengutip Firman Allah: wa laa yajri mannakum syana-aanu qaumin ‘alaa allaa ta’diluu, a’diluu huwa aqrabu littaqwaa janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil, itu lebih dekat kepada takwa,[24] dan menyampaikan kepada para pemimpin dunia, meskipun terdapat permusuhan di antara mereka, mereka harus tetap berdiri diatas keadilan, karena sejarah telah mengajarkan, satu-satunya cara untuk menekan semua jejak kebencian di masa depan adalah keadilan. Keadilan yang dapat membangun perdamaian yang abadi.

Banyak pesan damai disampaikan Khilafah Ahmadiyah kepada para pemimpin dunia. Selain di depan Parlemen Inggris 2008, beliau juga menyampaikan dalam berbagai kesempatan Peace Symposium Internasional di Inggris dan di berbagai negara lainnya.

Pada periode 2011-2013, ada dua belas surat Khilafah Ahmadiyah di sampaikan kepada para pemimpin dunia, berisi permohonan, ajakan, seruan, dan nasihat, untuk menyelesaikan berbagai konflik di berbagai belahan dunia yang bisa memicu pecahnya perang dunia ke-3.

Surat-surat itu disampaikan kepada: (1) Paus Benedictus XVI, (2) Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, (3) Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, (4) Presiden Rusia, Vladimir Putin, (5) Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, (6) Pemimpin Spiritual Republik Islam Iran, Ayatullah Syed Ali Hosseini Khamenei, (7) Penjaga Dua Tempat Suci, Raja Kerajaan Arab Saudi, Abdullah bin Abdul-Aziz Al-Saud, (8) Ratu Inggris, Ratu Elizabeth II, (9) Perdana Menteri Inggris, David Cameron, (10) Pimpinan Dewan Negara Republik Rakyat Tiongkok, Mr. Wen Jiabao, (11) Kanselir Jerman, Angela Markel, dan (12) Presiden Perancis, Francois Hollande.

Materi pidato di depan Parlemen Inggris dan Surat-surat beliau kepada para pemimpin dunia telah di terbitkan menjadi buku dengan judul: World Crisis and Pathway to Peace (Inggris-UK, 2012,2013,2013), Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian (Indonesia-Neratja Press 2014).

Mungkin ada yang bertanya, katanya Khilafah Ahmadiyah tidak berpolitik, buktinya Khilafah Ahmadiyah pidato dan menulis surat kepada para pemimpin dunia bicara politik, dan mengenai suhu politik dunia Internasional.

Ajakan, seruan, Khilafah Ahmadiyah kepada para pemimpin dunia untuk membangun keadilan dan perdamaian, jika mau dibilang politik, ya itu memang politik. Tetapi, itu bukan politik kekuasaan, atau lebih-lebih politik untuk merebut kekuasaan. Itu adalah politik kecintaan kepada kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian dunia.

 Di awal uraian ini di kutif Firman Allah:

$tBur ã@řöçR tûüÎ=y™ößJø9$# žwÎ) tûïΎÅe³u;ãB z`ƒÍ‘É‹ZãBur (

Dan, tidaklah Kami mengutus rasul-rasul kecuali sebagai pembawa kabar suka dan pemberi peringatan.[25]

Sebagai Khilafah ‘Alaa Minhaajin-Nubuwwah, Khilafah Ahmadiyah, berkewajiban mengemban risalah Baginda Nabi Muhammad s.a.w., menyampaikan kabar suka dan peringatan.

Berkenaan dengan surat-suratnya, Khilafah Ahmadiyah ke-5, pun menyampaikan: “Saya tidak tahu apakah surat-surat itu akan di beri nilai atau bobot oleh mereka yang telah saya kirimi surat itu, tapi apa pun reaksi mereka, upaya telah di lakukan oleh saya, sebagai Khalifah dan pemimpin spiritual jutaan Muslim Ahmadi di seluruh dunia, untuk menyampaikan perasaan dan emosi mereka tentang keadaan bahaya di dunia.  Biarkan menjadi jelas bahwa saya tidak pernah menyatakan sentimen ini karena perasaan takut, tetapi sebaliknya, keluar dari motivasi karena cinta yang tulus untuk kemanusiaan. Cinta untuk kemanusiaan ini telah dikembangkan dan di tanamkan dalam seluruh Muslim sejati dan sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad s.a.w., seperti yang telah saya sebutkan, telah di utus sebagai sarana kasih dan sayang bagi seluruh umat manusia.[26]

Sidang Jalsah yang berbahagia!

Apa yang di sampaikan Khilafah Ahmadiyah ke-5, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, a.t.b.a., kepada para pemimpin dunia, tentu bukan hanya hasil analisa pemikiran belaka. Sangat boleh jadi, itu adalah hasil visi spiritual, merupakan isyarah langit.

Kita Jemaat harus meresponsnya, dan membantu menyampaikan pesan beliau untuk membangun dan menciptakan keadilan dan perdamaian dunia. Kita berharap dan berdoa, semoga para pemimpin dunia mengerti dan menyambut seruan Khilafah Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, a.t.b.a.. Aamiin!

Inkopad, Kamis, 26-12-19, 16:24

ditulis oleh: H.M. Syaeful ‘Uyun


[1] An-Nur, 24:56

[2]  HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430), Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796)

[3]  Al-Jum’ah, 62:3-4

[4]  Bukhari, Lihat juga Tafsir Al-quran Surah Al-Jum’ah, 62:4, catatan kaki no. 3046

[5]  H. Mahmud Ahmad Cheema H.A, Kabar Suka Nabi Isa/Imam Mahdi as Telah Datang , 2001, hal. 33, Kanzul ‘Umal, Bab Khurujil-Mahdi, Jld. 6, hal. 686

[6]  Lihat, Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Tafsir  Al-quran Surah Al-Jum’ah, 62:4, catatan kaki no. 3046

[7]  Mirza Ghulam Ahmad, Haqiqot al-Wahyi, Qadian, 1934, hal.72, dan Haqiqot al-Wahyi, Neratja Press, 2018, hal. 92

[8]  Mirza Ghulam Ahmad, Ek Ghalati Ka Izala, alih bahasa: M.A. Suryawan, hal. 26-27, Lihat juga: Batera Nuh, 2010, hal. 24, Al-Wasiat, 2018, hal. 19

[9] Mirza Ghulam Ahmad, Tajaliyati Ilahiyah, 2018, hal. 34

[10] Lihat, Al-Quran Surah An-Nisa, 4:70-71, dan Mahzarnamah, Penjelasan/Pembuktian Akidah Jemaat Ahmadiyah, Islam International Publikacations 2002, hal. 86

[11]   Mirza Ghulam Ahmad, Al-Wasiat, 2018, hal. 19

[12] “Dan Allah memberikan khabar suka kepadaku, Dia berkata: “Sesungguhnya “Al-Masih Al-Mau’ud” yang dijanjikan akan datang dan “Al-Mahdi” yang dijanjikan yang ditunggu-tunggu kedatangannya, dia adalah engkau. Kami mengerjakan untuk apa yang Kami kehendaki, dan janganlah kalian termasuk orang-orang yang ragu”.(Mirza Ghulam Ahmad, Itmamul Hujjah, hal. 3, Rukhani Khazaiin, Jld. 8, hal.275)

[13]  Mirza Ghulam Ahmad, Al-Wasiat, 2018, hal. 8

[14]  Mirza Ghulam Ahmad, Al-Wasiat, 2018, hal. 6

[15]  Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian, Neratja Press, 2014, hal. 10

[16]  Ulil Absar Abdalla, Ahmadiyah dan Khilafah Spiritual, islamlib.com (30/09/2015)

[17]  Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian, Neratja Press, 2014, hal. 12

[18]  Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian, Neratja Press, 2014, hal. 235-236

[19]  Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian, Neratja Press, 2014, hal. 242

[20]  Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian, Neratja Press, 2014, hal. 223-226

[21]  Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian, Neratja Press, 2014, hal. 230

[22]  Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian, Neratja Press, 2014, hal. 235-236

[23]  Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian, Neratja Press, 2014, hal. 230

[24]  Al-Maidah, 5:9

[25] Al-‘An’am, 6:49

[26] Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian, Neratja Press, 2014, hal. 236-237

Pages: 1 2

0 Responses to “NASIHAT KHILAFAH DALAM MENGHADAPI ANCAMAN PERANG DUNIA KE-3”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.




AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Blog yang Saya Ikuti

Statistik Blog

  • 325,687 hit

IBX5A601C18C1153


%d bloggers like this: