PENCIPTA LAGU INDONESIA RAYA ternyata pengikut AHMADIYAH

Tahun 1932, Soepratman mendapat sakit urat sjaraf, disebabkan lelahnja karena bekerdja keras. Setelah beristirahat 2 bulan, di Tjimahi, beliau kembali ke Djakarta untuk mengikuti aliran Achmadijah. Sedjak April beliau bersama kakaknja bertempat tinggal di Surabaja. [Kutipan tulisan Soejono Tjiptomihardjo dalam ‘Buku Kenang-Kenangan 10 Tahun Kabupaten Madiun’ halaman 171 J

Lahirnya ‘Indonesia Raya’
Tanggal 28 Oktober memiliki hubungan yang rapat sekali dengan perasaan dan jiwa serta perjuangan bangsa kita, karena pada hari itulah telah lahir sesuatu, yang kini telah menjadi pusaka bagi bangsa kita, ialah lagu Kebangsaan kita ‘INDONESIA RAYA’. Tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928, dalam Kongres Pemuda Indonesia yang ke-2 di Jakarta, lagu Indonesia Raya diresmikan sebagai lagu Kebangsaan Indonesia.
Bertepatan dengan peresmian Lagu Kebangsaan itu, diucapkan juga dalam Kongres itu sumpah sakti, ialah Sumpah Pemuda yang berbunyi:
“Kita bertanah air satu, ialah Tanah Air Indonesia. Kita berbangsa satu, ialah bangsa Indonesia. Kita berbahasa satu, ialah bahasa Indonesia. “
Sejak detik itu, sumpah itu menjadi sumpah dari bangsa kita seluruhnya. lagu Kebangsaan dan sumpah bangsa yang dilahirkan dalam Kongres Pemuda itu, terbukti telah menjadi ‘anasir’ yang maha penting dan mendasar, di atas mana negara kita sekarang berdiri. Sejak detik itu, lagu Indonesia Raya diakui oleh seluruh bangsa kita sebagai lagu Nasionalnya, dan kini lagu itu telah dikenal serta diakui pula oleh seluruh dunia sebagai lagu Kebangsaan Indonesia.
Dalam masa penjajahan Belanda, lagu Indonesia Raya merupakan pendorong dan pengobar semangat rakyat yang sangat besar artinya bagi perjuangan nasional kita untuk melemparkan (mengusir) penjajahan. Melihat besarnya pengaruh lagu Indonesia Raya atas bangsa kita, Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu menjadi begitu khawatir sehingga Indonesia Raya dijadikan lagu yang terlarang, karena dianggapnya membahayakan. Namun semakin dilarang lagu itu, semakin naiklah harga lagu itu dalam hati rakyat, dan semakin cintalah rakyat kepadanya. Semakin besar kekangan untuk menyanyikan lagu itu, semakin besarlah hasrat rakyat untuk menyanyikannya. Bertambah besarnya pengaruh lagu Indonesia Raya sejalan dengan meningkatnya perjuangan bangsa kita.

Lagu Kebangsaan adalah Suatu Kebanggaan

Bagi mereka yang mengerti arti dari lagu kebangsaan, maka sungguh tinggi nilai lagu kebangsaan itu. Karena itu, memiliki lagu kebangsaan adalah suatu kebanggaan bagi tiap-tiap bangsa. Setiap bangsa yang merdeka dan berdaulat pasti memiliki lagu kebangsaan.
lagu kita, Indonesia Raya, dicipta sewaktu bangsa kita berada dalam alam penjajahan, sewaktu kemerdekaan dirampas dari padanya, sewaktu kita hid up tertindas dan terhina. Karena itu Indonesia Raya menggambarkan kerinduan bangsa kita terhadap kemerdekaan dan kecintaan terhadap tanah air dengan segala isinya. Indonesia Raya menggambarkan juga kebesaran tekad dan ketetapan hati bangsa kita, juga menggambarkan suatu keyakinan yang teguh, bahwa bangsa kita pasti akan merdeka dan negara kita akan menjadi negara yang besar, sekalipun pada masa itu masih dijajah oleh bangsa lain.
Memang, dari isi dan gaya lagu Indonesia Raya, kita dapat mengetahui bagaimana dalamnya si pencipta (W. R. Supratman) menyelami lubuk hati bangsa kita pada masa itu. Dengan tepat si pencipta telah menggambarkan bagaimana isi hati dan keinginan serta cita-cita bangsa kita.

Pencipta Indonesia Raya
Ketika kita membicarakan lagu kebangsaan kita Indonesia Raya, ketika kita mengenang kebesaran arti ‘Indonesia Raya’ bagi bangsa dan negara kita, maka tidak mungkin dapat dipisahkan: kita akan teringat juga kepada penciptanya, yakni almarhum Wage Rudolf Soepratman. Wajiblah kita mengenang jasa beliau di tengah-tengah masyarakat kita yang sedang bergolak ini. Soepratman dilahirkan tanggal9 Maret 1903, pada hari Jum’at Wage di Jatinegara (Jakarta), sebagai putera kelima dari keluarga Sersan Soepardjo.
Nama ‘Rudolf diberikan oleh ayah angkatnya, seorang Sersan Belanda yang bernama Eklich, suami dari kakaknya yang bernama Rakijem. Kakaknya (Rakijem) membawa Soepratman ke Makassar pad a tahun 1914. Di sinilah beliau melanjutkan sekolahnya. Di Makassar sudah mulai tampak kegemarannya dalam bidang karang-mengarang dan jurnalistik.

Soepratman Berdarah Seniman
Nji Rakijem pandai bermain biola dan Soepratman belajar bermain biola dad kakaknya itu. Karena terdorong oleh kemauan keras, dan berkat pembawaan serta latihan-Iatihan yang tak kunjung patah, lama-kelamaan, tampaklah beliau sebagai penyairdan penggubah yang ulung.

Soepratman Pemuda Pejuang
Pada tahun 1924 beliau kembali ke Jawa, mula-mula tinggal di Surabaya, kemudian di Bandung. Di Surabaya kepandaiannya dalam musik menjadi sangat maju, dan di sini beliau mulai menjadi wartawan dan membantu beberapa surat kabar. Di Bandung beliau menjadi wartawan ‘Kaum Muda’. Mulai tampak tajam penanya dengan menggambarkan isi hatinya dalam sebuah buku roman yang diberi judul ‘Gadis Desa’, dan yang diterbitkan dengan uangnya sendiri. Tetapi sayang sekali, Belanda melarang bukunya itu beredar, hingga beliau mendapat kerugian uang yang tidak sedikit jumlahnya. Itu merupakan tekanan lagi bagi jiwa yang ingin berjuang memperbaiki keadaan masyarakat.
Pada tahun 1925 beliau nikah dengan Soedjenah. Hidupnya tidak mementingkan kebendaan dunia, bahkan bertambah pula rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Rasa yang demikian terlukis dalam lagu-Iagu kebangsaan buah ciptaannya, antara lain: Di Timur Matahari, Bendera Kita, dan lagu K.B.!. Tetapi beliau belum puas dengan lagu-Iagu yang telah diciptakan itu. Beliau ingin ada lagu kebangsaan yang lebih tepat dengan jiwa dan perjuangan bangsa Indonesia, menuju Indonesia merdeka. Maka akhirnya selesailah sebuah lagu yang diberi nama ‘Indonesia Raya’.

Lahirnya Indonesia Raya
Dalam Kongres Pemuda Indonesia ke-2 di Jakarta, tanggal 28 Oktober 1928, muncullah seorang pemuda dengan orkesnya ‘Indonesia Merdeka’ dan memperdengarkan sebuah lagu yang baru sekali bagi telinga pergerakan kebangsaan. Isi syair dan lagunya sungguh-sungguh mempengaruhi jiwa semua hadirin dalam kongres itu. Lagu itu ialah lagu Indonesia Raya ciptaan Soepratman, dan diakui sebagai lagu kebangsaan Indonesia. Lagu Indonesia Raya makin terkenal di dunia, namun sebaliknya penciptanya tidak mendapat perhatian seperti lagunya. Beliau hid up dalam kemelaratan dan kekurangan.

Detik Terakhir
Tahun 1932 Soepratman menderita sakit urat syaraf, disebabkan lelahnya karena bekerja keras. Setelah beristiraha: 2 bulan di Cimahi, beliau kembali ke Jakarta untuk mengikuti aliran Ahmadiyah. Sejak April beliau bersama kakaknya tinggal di Surabaya. Sebelumnya beliau bercerai dengan isterinya, karena kesukaran dalam hidupnya. Beliau menderita keletihan bathin, karena banyak cita-citanya yang belum tercapai. Oalam kesukaran ini beliau masih dapat menciptakan lagu ‘Surya Wirawan’ dan ‘Mars Parindra’. Secara mendadak beliau jatuh sakit dan lalu meninggal dunia pada tanggal 17 Agustus 1938. Sehari sebelum wafatnya beliau berpesan kepada Nji Rakijem agar lagu’ Indonesia Raya diserahkan kepada Badan Kebangsaan untuk disiarkan. W. R. Soepratman telah kembali ke haribaan Tuhan dalam usia yang masih sangat muda (35 tahun). Saat jenazahnya diberangkatkan ke makam, hanya beberapa kawannya yang mengiringi. Beliau tidak begitu diperhatikan oleh masyarakat bangsa kita pada waktu itu. Jenazahnya dimakamkan di Surabaya.
Soepratman, seorang pencita ulung, seorang seniman, dan seorang pejuang, telah meninggalkan kita selamanya. Badan kasarnya telah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi dan tetap berada ditengah-tengah bangsa kita, rela sejiwa dengan bansa Indonesia dan akan tetap bergelora sampai akhir zaman. Marilah setiap saat kita memperinati lagu kebangsaan Indonesia Raya itu, kita berdo’a sekhidmat-khidmatnya untuk arwah W.R. Soepratman, mengenang jasa serta segala pengorbanan yang telah diberikannya untuk kebahagiaan Nusa dan Banga.

Dikutip oleh GEMA dari Buku Kenang-Kenangan 10 Tahun Kabupaten Madiun halaman 168 s/d 171

12 Responses to “PENCIPTA LAGU INDONESIA RAYA ternyata pengikut AHMADIYAH”


  1. 1 aila October 25, 2008 at 5:31 am

    wow, ga nyangka banget yah!
    ternyata sesuatu yang dilarang-larang justru malah bikin orang penasaran, malah skrang lagu tersebut diakui sbg lagu kebangsaan Indonesia yah.
    Btw, apa mungkin hal ini terjadi dg orang Ahmadiyah sendiri? yang dilarang di Indonesia
    kita lihat saja nanti. apa mungkin pengikut ahmadiyah semakin kuat? atau sebalikya.

  2. 2 Ajaran October 26, 2008 at 8:45 pm

    Alhamdulillah? Nauzubillah? Insyaallah?

    Pilih mana untuk tanggapan terhadap berita ini

  3. 3 Alif October 30, 2008 at 7:31 am

    O ternyata Ahmadiyah itu sudah ada ya di Indonesia jauh sebelum hari lahirnya kemerdekaan kita..
    dan para pahlawan ini merdeka dalam menjalankan keyakinannya tsb tanpa takut kena skb atau lemparan batu..
    hmmm tapi anehnya sekarang justru di alam kemerdekaan kita
    sudahkah kita ahmadi merdeka dalam menjalankan keyakinannya?
    Indonesia Raya
    Merdeka..merdeka..
    Oi bersatulah.. jauhi perpecahan..
    jika lagu kebangsaan kalian masih sama yaitu Indonesia Raya..

  4. 4 roeslan November 21, 2008 at 6:06 am

    ahmadiyya sebenarnya adalah sebuah solusi daripermasalahan umat sedunia, tidak pandang bulu umat di negara manapun. say takjub bisa merasakan hawa panas dari seorang utusan Muhammad SAW. Dulu kalo nggak ada ahmadiyya mungkin saya kurang yakin dengan islam karena lebih nampak jiwa-jiwa islam yang kosong namun sombongnya bukan main..
    keyakinan akan membawa kita pada sebuah jawabn bukan pada sebuah pertengkaran.. seperti halnya WR. SUpratman…di ujung hidupnya dia menemukan jawaban …

  5. 5 ilham fauzi March 31, 2010 at 3:35 am

    Ahmadiyah dilarang kok semakin banyak ya? ada apa ini? TERNYTA keyakinan seseorang itu hanya TUHAN yang Maha Penjaga? dan lagu INDONESIA RAYA, jika kita renungi setiap kalimatnya,,,, terasa begitu dalam kecintaan Almarhumah terhadap bangsa INDONESIA ini, semoga saja INDONESIA menjadi bangsa yang damai, penuh toleransi, dan semangat bergotong royongnya tetap ada.AMIN.
    yang terpenting kita bisa BERSAMA dalam perbedaan yang ada.

  6. 6 Hamba Allah November 15, 2010 at 3:16 am

    gak nyangka yaaa….seorang pencipta lagu kebangsaaan Indonesia Raya adalah seorang Ahmadi…(sebutan bagi anggota jamaah Ahmadiyah) maka dari itu…sudah jelas dari semboyan negara kita Indonesia “Bhineka Tunggal Ika” walaupun terdapat perbedaan di antara kita tetapi tetap satu juga.. yaitu Indonesiaa…artinya yaa. jangan hanya meperlihatkan perbedaan dan kesalahan orang lain saja,,,,namun lihatlah hasil jerih payah yang diberikan kepada bangsa ini….. so..kehati-hatian dalam menilai pendapat orang adalah ciri dari kematangan jiwa….. :):P

  7. 7 firman alisyah February 9, 2011 at 4:13 am

    Asalamu’alaikum

    Saya pernah baca Bp Muhyidin Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan RI juga adalah Ahmadi bahkan sebagai ketua umum ahmadiyah indonesia, namun sayang beliau diculik dan sampai sekarang belum jelas keberadaanya, Saran coba di telusuri kebenaranya. Jazakumullah.

  8. 8 Nadeem February 16, 2011 at 2:14 pm

    On the other hand it is very sad that some Indonesians are blindly against the whole Ahmadiyya community. Instead of giving a chance to explain how and why the community claim to be Muslims, severe persecution has been going on. Give a chance for Ahmadis to explain and prove in front of the public about whether the community is Islam or not; if fails, declare as non Muslims and ask the community leaders to accept it n admit in public. but a chance must be given to explain on the basis of Holy Qur’an, Sunnah n Hadith.

  9. 9 sandila penawar cinta luka di hati April 1, 2012 at 12:56 am

    Saya akui saya bangga dengan Mr.Soepratman semoga hidup mu abadi di alam sana dan selalu dalam lindungam Alloh S.W.T

  10. 10 norton sirait November 23, 2012 at 12:38 am

    oh..keren hebat,salut,dengan perjuangan beliau mari kita teladani sikap dan perjuangan beliau


  1. 1 HUT RI KE 64 « Which, then, of the favours of your Lord will ye twain, deny? Trackback on August 17, 2009 at 2:08 am
  2. 2 Tweets that mention PENCIPTA LAGU INDONESIA RAYA ternyata pengikut AHMADIYAH « Which, then, of the favours of your Lord will ye twain, deny? -- Topsy.com Trackback on February 7, 2011 at 6:14 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




AYO MAMPIR DAN BERBELANJA DITOKO ONLINE KAMI:

Blog Stats:

  • 151,392 total pengunjung di blog ini

Klik ikon MTA dibawah untuk menyaksikan siaran TV nonstop tanpa tayangan iklan, menyiarkan keindahan Islam.

October 2008
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Salurkan bantuan kemanusian anda melalui: Humanity First Indonesia (Yayasan Kemanusiaan Indonesia) di Bank Mandiri-
Jakarta Plaza Mandiri
Rek No.: 070.000.4366.618

Pengunjung Mulai Jam 15.15, 27 Oktober 2008

free counters
Enhanced with Snapshots

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 176 other followers

%d bloggers like this: