Pesimisme

Rasulullah s.a.w adalah musuh pesimisme atau keputus-asaan. Beliau senantiasa bersabda bahwa barangsiapa menyebarkan rasa pesimis dikalangan anggota-anggota masyarakat, ia bertanggung jawab atas kemunduran bangsa; sebab, pikiran -pikiran pesimis mempunyai kecenderungan mengecutkan hati dan menghentikan laju kemajuan (Muslim, Bagian II, Jilid 2). Beliau memberi peringatan kepada kaum beliau terhadap kesombongan dan kecongkakan pada satu pihak dan terhadap pesimis di pihak lain. Beliau memperingatkan mereka supaya menempuh jalan tengah antara kedua ekstrim itu. Orang-orang Muslim harus bekerja rajin dan tekun dengan kepercayaan bahwa Tuhan akan memberkati daya upaya mereka dengan hasil yang sebaik-baiknya. Tiap-tiap orang harus berikhtiar untuk maju dan harus berusaha memajukan kesejahteraan dan meningkatkan kemajuan masyarakat, tetapi tiap-tiap orang hendaknya bebas dari perasaan sombong atau tiap-tiap kecenderungan kepada kecongkakan.

SUMBER:
Life of the Holy Prophert by HM Bashiruddin Mahmud Ahmad

Kejujuran

Seperti telah diriwayatkan, Rasulullah s.a.w. sendiri begitu tegar dalam soal kejujuran sehingga beliau terkenal di antara kaum beliau sebagai “Orang Tepercaya” dan “Orang Benar”. Begitu pula beliau sangat berhasrat agar orang-orang Muslim menjunjung tinggi nilai kebenaran seperti beliau sendiri menjunjungnya. Beliau memandang kebenaran sebagai dasar segala keluhuran budi, kebaikan, dan perilaku yang benar. Beliau mengajarkan bahwa seseorang yang Muttaqi adalah orang yang teguh memegang kebenaran sehingga ia terhitung bertakwa oleh Tuhan. Continue reading

Bekerja Sama

Rasulullah s.a.w.senantiasa mengajarkan bahwa salah satu ciri khas Islam yang terbaik ialah, orang hendaknya jangan mencampuri urusan yang tidak ada kaitan dengan dirinya dan jangan mengecam atau mencela orang lain dan mencampuri perkara-perkara yang tidak bertalian dengan dirinya. Itulah dasar yang jika dipakai dan dilaksanakan akan menjamin keamanan dan ketertiban di dunia. Sebagian besar kesukaran yang kita alami adalah bersumber pada kecenderungan mayoritas masyarakat menuruti hati untuk ikut campur yang tidak pada tempatnya, dan enggan memberikan kerja sama saat diperlukan dalam upaya mengurangi penderitaan orang-orang yang ada dalam kesusahan. Continue reading

Kesabaran Dalam Kesusahan

Rasulullah s.a.w. biasa bersabda, “Untuk seorang Muslim, kehidupan ini sarat dengan kebaikan dan tidak ada orang lain kecuali orang beriman merasakan dirinya dalam keadaan ini sebab jika ia berjumpa dengan kesenangan, ia bersyukur kepada Tuhan dan menjadi orang yang menerima lebih banyak rahmat dan berkat dari Dia. Sebaliknya, jika ia menderita kesusahan atau kemalangan, dipikulnya penderitaan dengan sabar dan dengan demikian lagi-lagi ia menjadi orang yang meraih rahmat dan berkat Ilahi.” Continue reading

Pergaulan Baik dan Menjaga Kepercayaan Orang

Rasulullah s.a.w. selamanya memilih pergaulan dengan orang-orang baik dan jika beliau melihat suatu kelemahan pada salah seorang dari para Sahabat, beliau menegurnya dengan ramah secara empat mata. Abu Musa Asy’ari meriwayatkan, “Rasulullah s.a.w. menggambarkan faedah yang dapat diraih dari teman- teman yang baik dan kawan yang saleh, dan kerugian yang dapat diterima dari sahabat-sahabat yang rawan susila dan kawan-kawan yang buruk dengan mengatakan, Continue reading