Manusia-Manusia Terbaik (bagian 2)

Beliau mengirimi surat permohonan bantuan kepada pasukan Muslim yang berada di berbagai wilayah yang luas dan sedang memerintah umat Kristen. Kaisar Romawi lalu mengirim pasukan besar lainnya. Abu Ubaidah terlebih dahulu berkonsultasi dengan para Jendralnya lalu memutuskan mengambil langkah strategis untuk sementara waktu meninggalkan beberapa kota dan wilayah yang sudah ditaklukan umat Islam. Mereka telah menerima pajak dari penduduk setempat yang semuanya non-Muslim, namun Abu Ubaidah (ra) mengembalikan semua penerimaan pajak tersebut kepada mereka yang jumlahnya ratusan ribu sambil berkata: “Karena sekarang kami sudah tidak mampu lagi melindungi kalian dan tidak dapat memenuhi hak-hak kalian, maka kami akan mengembalikan seluruh jumlah pajak yang telah kami terima dari kalian.”

Keadilan dan pengembalian akan kepercayaan tersebut membawa pengaruh besar kepada orang-orang non-Muslim itu sehingga semua orang Kristen di kalangan penduduk setempat melepas kepergian orang-orang Islam sembari menangis, dan memanjatkan doa dengan sepenuh hati agar Allah Ta’ala segera membawa mereka kembali dengan segera.

Inilah orang-orang yang karena hasil dari hidup bersama dengan Rasulullah (saw), telah menegakan standar kejujuran dan keadilan mereka sedemikian rupa, yang mana tidak pernah dibayangkan sebelumnya, bahkan sampai detik ini tidak ada seorang pun yang bisa melakukannya.

selengkapnya:
Continue reading ‘Manusia-Manusia Terbaik (bagian 2)’

Manusia Manusia Terbaik

Pernah satu ketika Hadhrat Abu Bakr (ra) berselisih pendapat dengan Hadhrat Umar (ra). Mereka berdua berdebat cukup lama sampai-sampai nada suara mereka berdua meninggi karena kemarahan. Hadhrat Umar (ra) marah dan berbalik meninggalkan perdebatanitu. Selang beberapa lama setelah perdebatan itu berakhir, Hadhrat Abu Bakr (ra) mendatangi Hadhrat Umar (ra) dan meminta maaf karena dalam perdebatan tersebut, beliau menggunakan kata-kata yang keras dan nada suara tinggi. Tapi Hadhrat Umar (ra) menolak permintaan maaf tersebut. Hadhrat Abu Bakr (ra) akhirnya pergi menghadap Rasulullah (saw) menceritakan semua kejadian tersebut. Beliau ra berkata, “Wahai Rasulullah, antara saya dan Ibnul Khattab terjadi perselisihan, saya pun segera mendatanginya untuk meminta maaf, kumohon padanya agar memaafkan saya namun dia enggan memaafkanku, karena itu saya datang menghadapmu sekarang.”

Nabi saw lalu bersabda: يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ يَا أَبَا بَكْرٍ “Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakr” sebanyak tiga kali. Sementara itu Hadhrat Umar (ra) mulai merasa menyesal dan malu serta menyadari kesalahannya. Beliau pun bergegas pergi ke rumah Hadhrat Abu Bakr (ra) untuk meminta maaf. Sesampainya di sana, beliau tidak menemukan Hadhrat Abu Bakr (ra) di rumah tersebut. Beliau pun akhirnya pergi menghadap Rasulullah (saw). Ketika Rasulullah (saw) melihat Hadhrat Umar (ra), wajah beliau (saw) memerah karena ketidaksukaan (kemarahan) beliau kepadanya (Umar). Melihat perubahan wajah Rasulullah (saw), Hadhrat Abu Bakr ra (merasa kasihan kepada Umar) memohon sambil duduk di atas kedua lututnya, يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ أَنَا كُنْتُ أَظْلَمَ “Wahai Rasulullah! Demi Allah sebenarnya saya-lah yang bersalah. [Maafkanlah Umar!]”6

Inilah kerendahan hati dan ketakutan beliau akan Tuhan. Hadhrat Umar ra pun telah menyesal dan datang untuk meminta maaf. Keduanya telah menyesal. Inilah kumpulan (Jemaat) orang-orang suci yang didirikan Rasulullah (saw), dan mereka yang hidup dalam kumpulan tersebut menjadi penerima ridha Allah Ta’ala.

selengkapnya:

Continue reading ‘Manusia Manusia Terbaik’

Benarkah Nabi Isa as Hidup di Langit?

https://youtu.be/7OFPSa3yI18

Kebenaran dan Keadilan

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun itu bertentangan terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Baik ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu yang baik baginya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu (keinginan-keinginanmu sendiri) karena ingin menyimpang dari keadilan. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (Surah an-Nisa, 4:136)

selengkapnya:
Continue reading ‘Kebenaran dan Keadilan’

Undangan Terbuka Untuk Mempelajari Ajaran Ahmadiyah

hmga

Penulis Fariz Abdussalam

“Manusia hanya bisa berusaha (tadbir), tetapi Allah Ta’ala yang menentukan (takdir)”

Tadbir adalah segala usaha, manajemen, atau administrasi yang dilakukan untuk menyelesaikan urusan sampai akhir. Pendapat ini didukung oleh al-Sayyid al-Sharif ‘Ali al-Jurjani (w. 816 H) dalam kitabnya al-Ta’rif. Zaidi merumuskan kembali definisi tadbir sebagai: “pertimbangan seksama intelektual atas akibat (hasil) dari sebuah urusan, kemudian diikuti dengan implementasi jika akibat tersebut adalah baik-tepat atau penolakan jika hasil diperkirakan akan buruk.”
Continue reading ‘Undangan Terbuka Untuk Mempelajari Ajaran Ahmadiyah’

Khilafah Ahmadiyah, ‘antidot’ Khilafah ISIS

Hari Jumat yang lalu kita digegerkan oleh berita sadis yang datang dari Timur Tengah, dimana terdengar kabar via Radio bahwa pasukan ISIS membakar hidup-hidup tawanan mereka. Entah apa yang ada dipikiran mereka, yang jelas sang majikan mereka yakni pendiri agama Islam sama sekali tidak pernah melakukan sesat perbuatan semacam itu. ISIS dengan Khilafah versinya semakin hari terus bertransformasi menjadi sebuah kekuatan yang anti kemanusiaan. Continue reading ‘Khilafah Ahmadiyah, ‘antidot’ Khilafah ISIS’

KESETIAAN TERBAGI

Dalam suatu pemilihan presiden Amerika dua calon bertarung di medan laga – Nixon dan Kennedy. Karena ia seorang Katolik, Kennedy disangsikan mengenai kesetiaannya kepada jabatannya sebagai presiden. Orang-orang Katolik adalah pengikut Paus dan mereka keras dalam disiplin agama. Jika kepentingan Amerika menghendaki suatu hal, sedangkan Paus (atau kepercayaan Kennedy sendiri) menghendaki yang lain apa yang akan diperbuat Kennedy? Dari dua kesetiaan yang bertabrakan itu, mana yang akan ia pilih? Apakah ia akan memilih negeri dan kedudukan tingginya? Atau apakah ia akan memilih kepercayaan Katoliknya? Apakah ia akan memainkan peranan presiden penuh seratus persen? Ataukah itu akan dikompromikannya dengan ketaatan kepada Paus?
Secara lihai Kennedy memecahkan masalah itu dan ia melepaskan diri dengan suatu jawaban sederhana. Sekiranya kedua kesetiaan itu – kepada Paus dan kepada jabatan presiden – bentrok, kata Kennedy, ia akan melepaskan jabatan presiden dan akan tetap tinggal sebagai seorang Katolik biasa (Time, 26 September 1960). Continue reading ‘KESETIAAN TERBAGI’


AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Statistik Blog

  • 262,584 hit

aku suka jalan-jalan

hidup adalah jalan-jalan. jalan-jalan adalah hidup