Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 18)

“Pada 11 Nabawi bulan Rajab Hadhrat Rasulullah (saw) bertemu kembali dengan penduduk Madinah di Makkah. Beliau (saw) menanyakan silsilah keturunan yang dari jawaban mereka dapat diketahui mereka dari kabilah Khazraj yang datang dari Yatsrib (nama kota sebelum popular nama Madinah Munawwaroh). Dengan nada kasih sayang Rasulullah (saw) bersabda, ‘Apakah Anda dapat mendengarkan perkataan saya?’

Mereka menjawab, ‘Ya.’

Rasulullah (saw) duduk lalu menyeru mereka kepada Islam kemudian menjelaskan mengenai misi beliau dengan memperdengarkan beberapa ayat Al Quran. Mereka saling memandang satu sama lain dan berkata bahwa ini adalah kesempatan, jangan sampai orang Yahudi mendahului kita, setelah mengatakan itu mereka semua baiat.

Mereka semua enam orang diantaranya Abu Umamah Asad Bin Zararah (أسعد بن زرارة) dari Banu Najjar yang paling pertama membenarkan; Auf Bin Harits (عوف بن الحارث) dari Banu Najjar yang merupakan kabilah kakek Rasulullah (saw) Abdul Muthallib, dari garis ibu; Rafi Bin Malik (رافع بن مالك) dari Banu Zariq, Quthbah Bin Amir (قُطبَة بن عامر بن حديدة) dari Bani Salamah, Uqbah Bin Amir (عُقبة بن عامر بن نابي) dari Bani Haram dan Jabir Bin Abdillah Bin Ri-ab (جابر بن عبد الله) dari Bani Ubaid.

Setelah itu mereka berpisah dari Rasulullah (saw) dan ketika pergi mengatakan, “Peperangan saudara diantara kami telah membuat kami sangat lemah. Banyak sekali ketidaksepakatan diantara kami. Kami akan pergi ke Yatsrib lalu menablighi saudara-saudara kami di sana. Betapa baiknya jika Allah Ta’ala menyatukan kami lagi dengan perantaraan anda (saw) lalu kami akan siap untuk memberikan pertolongan apapun kepada Anda.”

Lalu mereka pergi dan disebabkan oleh mereka, Islam mulai menyebar di Yatsrib dan banyak orang yang memeluknya.

Selengkapnya:
Continue reading ‘Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 18)’

AGAMA BUKAN HASIL KARYA CIPTA MANUSIA SERTA CIRI-CIRI PEMBAWA AGAMA YANG BENAR

Mengenai soal apakah agama-agama ini hasil karya cipta manusia, maka jawabnya
pasti ialah, tidaklah demikian dan, jawaban itu berdasarkan beberapa alasan. Agama-agama yang sudah berdiri mapan di dunia memperlihatkan beberapa ciri yang membedakan :
PERTAMA, Menurut semua ukuran biasa PARA PENDIRI AGAMA-AGAMA ADALAH ORANG-ORANG YANG SERBA LEMAH KEADAANNYA. Mereka tak punya kekuasaan atau wibawa. Namun demikian, mereka mengalamatkan perkataan mereka baik kepada orang-orang besar maupun kepada orang-orang kecil dan pada waktu yang tepat mereka dan para pengikut mereka naik dari kedudukan yang rendah kepada yang tinggi di dunia. Ini menunjukkan bahwa mereka ditunjang dan dibantu oleh suatu Kekuasaan yang besar.
Continue reading ‘AGAMA BUKAN HASIL KARYA CIPTA MANUSIA SERTA CIRI-CIRI PEMBAWA AGAMA YANG BENAR’

Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam

Dalam satu riwayat Hadhrat Anas bin Malik mendengar Hadhrat Hathib bin Abi Balta’ah mengatakan, “Ketika perang Uhud perhatian Rasulullah (saw) tertuju kepada saya dan saat itu Rasulullah (saw) tengah menderita [terluka dalam perang Uhud itu]. Sedikit waktu setelah perang usai, keadaan beliau semakin membaik. Di tangan Hadhrat Ali terdapat wadah berisi air. Dalam kondisi penderitaan itu, Rasulullah (saw) tengah membasuh wajah beliau dengan air itu.

Hathib bertanya kepada Rasul, ‘Siapa yang melakukan ini kepada tuan?’

Rasul bersabda, ‘Utbah Bin Abi Waqas telah melemparkan batu ke wajah saya.’

Saya (Hadhrat Hathib) berkata, ‘Saya telah mendengar suara teriakan di bukit yang mengatakan, “Muhammad telah terbunuh.” Setelah mendengar kabar tersebut, saya datang kemari dan saat rasanya saya tidak memiliki ruh lagi, tidak bernyawa lagi.’

Saya (Hadhrat Hathib) bertanya kepada Rasulullah (saw), ‘Dimana Utbah?’

Rasulullah (saw) mengisyarahkan ke suatu arah.”

Lalu, Hadhrat Hathib pergi menuju arah itu. Utbah tengah bersembunyi. Hathib berhasil menguasainya. Hathib menebaskan pedang memenggal kepalanya. Kemudian, potongan kepalanya (Utbah), barang-barangnya dan kudanya dibawa ke hadapan Rasulullah (saw).

Rasulullah (saw) memberikan semua barang itu kepada Hadhrat Hathib dan mendoakannya, beliau bersabda: Semoga Tuhan ridha kepadamu dan beliau bersabda dua kali.

Selengkapnya:

Continue reading ‘Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam’

Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam

Serial bahasa Para Sahabat peserta perang Badar: Hadhrat Khallad Bin Rafi az-Zurqi, Hadhrat Haritsah bin Suraqah, Hadhrat Abbad bin Bisyr, Hadhrat Sawad radhiyAllahu ‘anhum

Rujukan berdasarkan Kitab Hadits

Rujukan berdasarkan Kitab-Kitab Tarikh dan Sirah

Uraian terperinci perihal latar belakan keputusan Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam untuk menjatuhkan perintah eksekusi mati terhadap Ka’ab ibn Asyraf, seorang keturunan Arab-Yahudi yang beragama Yahudi yang melakukan pelanggaran perjanjian dan makar terhadap umat Muslim di Madinah. Peranan Muhammad ibn Maslamah dan kawan-kawannya.

Seputar Perjanjian Hudaibiyah
Continue reading ‘Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam’

Sifat-Sifat Orang Beriman

 

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Wa man ahsanu qoulan mimman da’aa ilallaah wa amila soolihaw wa qaala innanii minal muslimiin. Artinya, Terjemahan ayat ini ialah sebagai berikut: “Siapakah yang lebih baik daripada orang yang menyeru kepada Allah Ta’ala, beramal saleh dan menyatakan, ‘aku termasuk kedalam orang-orang yang taat sepenuhnya.’” (Fushshilat : 33)

Ayat ini merupakan permisalan sempurna dan mencakup segala sifat dan keistimewaan yang seyogyanya secara khas dimiliki seorang Mu-min (beriman). Siapa yang dapat mengamalkan hal-hal tersebut melebihi seorang Muslim hakiki? Jika sifat-sifat dan keistimewaan-keistimewaan yang Allah Ta’ala jelaskan itu terdapat dalam diri seseorang maka di dalam kehidupannya akan tercipta satu revolusi, tidak hanya tercipta revolusi dalam dirinya saja, bahkan orang yang seperti itu akan dapat menciptakan revolusi dalam lingkungannya.

Tiga hal tersebut ialah: Pertama, da’wah ilallaah (menyeru kepada Allah); kedua, melakukan amal perbuatan saleh bersamaan dengan [hal ketiga], pernyataan seseorang untuk mengamalkan atau berusaha mengamalkan segala perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya dengan memperlihatkan teladan ketaatan dan kesetiaan.

Continue reading ‘Sifat-Sifat Orang Beriman’

‘Rahmatii wasi’at kulla syai-in’

Terdapat dalam sebuah hadits bahwa sepuluh hari pertama Ramadhan merupakan rahmat, sepuluh hari pertengahan merupakan maghfirah (ampunan) dan sepuluh hari terakhir merupakan najat (keselamatan) dari api Neraka.

Jika pada bulan Ramadhan mereka yang berpuasa mengamalkan hukum-hukum Allah Ta’ala lebih dari sebelumnya, meningkatkan ibadahnya, meningkat dalam ketakwaan, berarti manusia telah masuk kedalam tabir rahmat Allah Ta’ala lebih dari sebelumnya, karena Allah Ta’ala berfirman Jika seorang hamba berpuasa demi Ku dan pada hari hari ini meninggalkan sementara perbuatan yang diperbolehkan demi Aku, maka Aku sendiri lah yang akan menjadi ganjaran bagi orang yang berpuasa seperti itu.

Jika Allah ta’ala sendiri telah menjadi ganjarannya, berarti sarana ampunan telah didapat dan jika itu telah diraih yakni Allah ta’ala menerima ampunan dan taubatnya, berarti dia telah selamat dari api yakni api dunia dan di akhirat nanti.

 

selengkapnya……..

Continue reading ‘‘Rahmatii wasi’at kulla syai-in’’

Hadhrat Hamzah putra Abdul Muthallib

Rumah Hadhrat Hamzah terletak tidak jauh dari tempat Rasulullah duduk. Pada saat itu Hadhrat Hamzah masih belum beriman. Hadhrat Hamzah biasa pergi di pagi hari membawa senjata panah untuk berburu, kembali di sore hari dan biasa juga duduk di majlis orang-orang Quraisy. Ketika Abu Jahl mencaci maki Rasulullah (saw) dan berlaku aniaya, Hadhrat Hamzah tengah berburu saat itu. Namun secara kebetulan, perempuan hamba sahaya Hadhrat Hamzah tengah berdiri di pintu menyaksikan penganiayaan terhadap Rasulullah tersebut. Ketika Abu Jahl berkali-kali menyerang Rasulullah dan melontarkan caci-maki yang banyak, Rasulullah mendengarkan saja cacian itu dengan diam dan sabar. Semua pemandangan itu dilihat oleh hamba sahaya itu dari tempatnya.

Continue reading ‘Hadhrat Hamzah putra Abdul Muthallib’


AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Top Clicks

  • None

Blog yang Saya Ikuti

Statistik Blog

  • 294,284 hit

IBX5A601C18C1153