MENJAWAB TUDUHAN DAN FITNAH KEJI BAHWA MIRZA GHULAM AHMAD MENINGGAL DI WC

Peringatan keras bagi tukang Fitnah.

Fitnah merupakan suatu kebohongan besar yang sangat merugikan dan termasuk dalam dosa yang tak terampuni oleh Allah SWT. Oleh karenanya, Islam melarang umatnya memfitnah sebab fitnah adalah haram.

Allah SWT berfirman:

اِذْ تَلَـقَّوْنَهٗ بِاَ لْسِنَتِكُمْ وَتَقُوْلُوْنَ بِاَ فْوَاهِكُمْ مَّا لَـيْسَ لَـكُمْ بِهٖ عِلْمٌ وَّتَحْسَبُوْنَهٗ هَيِّنًا ۖ وَّهُوَ عِنْدَ اللّٰهِ عَظِيْمٌ

“(Ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu soal besar.” (QS. An-Nur 24: Ayat 15)

Pages: 1 2

NASIHAT KHILAFAH DALAM MENGHADAPI ANCAMAN PERANG DUNIA KE-3

satu-satunya cara untuk memastikan perdamaian bagi dunia adalah dengan menjalankan cara-cara kerendahan hati, keadilan, tulus, taat dan kembali kepada Tuhan, yang karenanya manusia akan menjadi manusiawi.  Yang kuat, agar melayani yang lemah dan miskin, dengan bermartabat dan rasa hormat, disertai keadilan. Sementara yang lemah dan miskin, juga menunjukkan rasa terima kasih dan menjalankannya dengan cara kebenaran dan keadilan, serta kemudian semua berpaling kepada Pencipta mereka, dengan penuh kerendahan hati dan ketulusan.

Menurut beliau, satu-satunya cara untuk keluar dari ambang bencana bagi negara-negara adalah menegakkan keadilan dengan persyaratan mutlak dalam hubungan mereka satu sama lain. Beliau mengutip Firman Allah: wa laa yajri mannakum syana-aanu qaumin ‘alaa allaa ta’diluu, a’diluu huwa aqrabu littaqwaa janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil, itu lebih dekat kepada takwa,[1] dan menyampaikan kepada para pemimpin dunia, meskipun terdapat permusuhan di antara mereka, mereka harus tetap berdiri diatas keadilan, karena sejarah telah mengajarkan, satu-satunya cara untuk menekan semua jejak kebencian di masa depan adalah keadilan. Keadilan yang dapat membangun perdamaian yang abadi.

lanjutkan membaca…..

Pages: 1 2

IMAM MAHDI DAN ISA AL-MAUUD as ADALAH SATU WUJUDNYA

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ فَأَمَّكُمْ مِنْكُمْ ». فَقُلْتُ لاِبْنِ أَبِى ذِئْبٍ إِنَّ الأَوْزَاعِىَّ حَدَّثَنَا عَنِ الزُّهْرِىِّ عَنْ نَافِعٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ « وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ ». قَالَ ابْنُ أَبِى ذِئْبٍ تَدْرِى مَا أَمَّكُمْ مِنْكُمْ قُلْتُ تُخْبِرُنِى. قَالَ فَأَمَّكُمْ بِكِتَابِ رَبِّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَسُنَّةِ نَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم-.

“Bagaimana keadaan kalian apabila Isa putera Maryam turun pada kalian dan menjadi pemimpin kalian?” Lalu aku berkata kepada Ibnu Abu Dzi’b bahwa al-Auza’i telah menceritakan kepada kami, dari az-Zuhri dari Nafi’ dari Abu Hurairah, “Pemimpin kalian dalah dari kalian.” Ibnu Abu Dzi’b berkata, “Apakah kamu tahu sesuatu apa (yang dijadikan dasar) memimpin kalian?” Aku balik bertanya, “Apakah kamu akan mengabarkannya kepadaku?” Ibnu Abu Dzi’b berkata, “Dia akan memimpin kalian berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Nabi Kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam’. (HR. Muslim no. 155)

Pages: 1 2

MEMBANGUN HARMONI DALAM KEHIDUPAN BERTETANGGA, BERMASYARAKAT, DAN BERBANGSA

Shirat Nabi Muhammad S.a.w.:

MEMBANGUN HARMONI DALAM KEHIDUPAN BERTETANGGA, BERMASYARAKAT, DAN BERBANGSA[1]

Oleh: H.M. Syaeful Uyun

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya kamu dapati dalam diri Rasulullah, suri teladan yang sebaik- baiknya bagi orang yang mengharapkan bertemu dengan  Allah dan Hari Kemudian dan yang banyak mengingat Allah.”[2]

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah, ”Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah  aku, kemudian  Allah akan mencintai dan akan mengampuni dosa-dosamu. Dan, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”[3]


                Membicarakan akhlak Baginda Nabi kita Muhammad s.a.w., khususnya berkenaan dengan peran beliau dalam membangun harmoni dalam kehidupan betetangga, bermasyarakat, dan berbangsa, saat ini, sungguh, sangat-sangat penting. Setiap hari, bahkan setiap jam, di dunia maya, maupun di dunia nyata, kita disuguhi berita-berita yang mengandung hoax, fitnah, dan hate speach – ujaran kebencian. Selain hoax, fitnah, dan hate speach, sinisme juga menjadi menu lumrah belakangan ini. Istilah kecebong dan kampret pun menjadi menu bahasa harian bagi yang setuju dan kontra kepada yang sedang berkuasa. Dan, sekarang lahir lagi isitilah baru: Kadrun (kadal gurun). Tentu saja, hal-hal tersebut telah mendorong terjadinya disharmoni dalam kehidupan masyarakat dan bangsa kita.  Kerusuhan di asrama mahasiswa Papua di Surabaya, dan merembet ke kerusuhan di Wamena, Papua, beberapa waktu lalu, adalah akibat dari hoax, fitnah, hate speach, dan sinisme itu.

Pages: 1 2

30 Pendusta/Dajjal Yang Mengaku Nabi/Rasul

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَاِنَّهُ سَيَكُونُ فِى اُمَّتِى ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ ىَزْعَمُ اَنَّهُ نَبِىٌ وَاَنَاخَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ لَانَبِىَّ بَعْدِى.(رواه الترمزى)

Artinya: ”Dan sesungguhnya akan ada di lingkungan umatku 30 orang pendusta (dajjal) yang mengaku nabi. Saya adalah Khaatamun Nabiyyin dan tidak ada lagi nabi sesudahku.” (Sunan At-Tirmidzi, Juz 9, hal.63

Kedatangan 30 dajjal yang mengaku nabi sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Rasulullah ﷺ hingga zaman tabi’ut tabi’in. Nama-nama mereka tercantum dalam kitab-kitab hadits dan ulama pada zaman itu:

Continue reading ’30 Pendusta/Dajjal Yang Mengaku Nabi/Rasul’

Khataman Nabiyyin, Maksudnya Apa?

“Muhammad (Saw) bukanlah bapak salah seorang di antara kaum laki-laki kalian, akan tetapi ia adalah Rasul Allah (Swt) dan materai/stempel/mensahkan sekalian nabi, dan Allah (Swt) itu Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al-Ahzab [33] : 40/41)

Telah menjadi kenyataan perselisihan arti dari ayat tersebut di atas kini sudah mencapai titik rawan (cap kafir), sekalipun Rasulullah Saw. telah bersabda bahwa, “Barang siapa memanggil atau menyebut seseorang itu kafir atau musuh Allah, dan sebenarnya bukan demikian, maka ucapan itu akan kembali kepada orang yang menyatakan itu.” (Bukhari).

Pages: 1 2

Nabi Ahmadiyah…!

Dalam hukum kemasyarakatan, ada satu hukum alam yang tidak bisa kita tolak. Dan kita secara umum sependapat dengan hal itu, yakni kekeliruan yang dibiarkan beredar dan tidak diklarifikasi, maka lama kelamaan akan dianggap sebagai suatu kebenaran.

Dalam postingan kali ini, saya bermaksud untuk mengklarifikasi “kekeliruan” yang beredar di masyarakat tentang Jamaah Ahmadiyah.

Pages: 1 2 3 4


AYO BERBELANJA DI TOKO ONLINE KAMI:

Blog yang Saya Ikuti

Statistik Blog

  • 325,683 hit

IBX5A601C18C1153